Tuesday, January 03, 2006

Sedikit Tentang Terapi Musik

Sedikit Tentang TERAPI MUSIK
Oleh Arifin Mohommad
*dari berbagai sumber

Terapi musik adalah salah satu dari program rehabilitasi untuk pengembangan keterampilan yang dilaksanakan terhadap seseorang (anak). Bisa saja si anak sudah menguasai atau belum sama sekali. Program-program yang dimaksud adalah snoezellen. Dalam prosesnya, seorang anak akan dibantu oleh seorang (atau lebih) profesional agar mencapai hasil seperti yang diharapkan.

Snoezellen berasal dari kata snuffelen (to sniff/aktif/eksplorasi). Karena itu, bisa diartikan sebagai suatu aktivitas yang mempengaruhi CNS, central nervous system, melalui media stimulasi pada area visual, auditori, tacticle (sentuhan), taste (rasa/pengecapan), dan pemahaman sikap tubuh pada sistem vestibular (keseimbangan) dan proprioception (gerakan persendian) untuk relaksasi atau aktivitas untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Anak saya sulit berkonsentrasi!”, kata seorang ibu di ruang tunggu sebuah treatment centre di bilangan Kebayoran Baru.

Setelah dilakukan observasi dan assesment secara terpadu oleh sekelompok profesional (dokter anak, psikolog, psikiater anak dan terapis) ternyata, anaknya disarankan melaksanakan beberapa macam terapi. Salah satunya terapi musik!

Apalagi kalau sedang marah, diganggu kakaknya misalnya, masih cerita ibu tadi, suasana hatinya sepanjang hari akan kacau berkepanjangan, uring-uringan, tak bisa mengontrol emosinya. Bahkan tak jarang menampakkan dampak yang buruk. Ia bisa kencing di celana tanpa sadar. Karena itu, anak semakin rendah diri.


Sebenarnya, terapi musik khususnya snoezellen tidak hanya sebatas pada stimulasi. Namun juga pada aktivitas ataupun permainan yang mengarah pada kesenangan. Manfaat yang bisa diperoleh antara lain adalah:

1. Memberi kesempatan untuk relaksasi, berekspresi dan eksplorasi
2. Memperkenalkan stimulasi dasar pada anak yang mengalami gangguan perkembangan
3. Berlatih dan belajar tentang kewaspadaan/kesadaran pada kenyataan dunia dengan cara melatih perhatiannya.
4. Membangun rasa saling percaya antara anak, guru, terapisnya yang pada gilirannya nanti bisa meluas dan mampu bersosialisasi dengan baik tanpa harus rendah diri.

Daya kekuatan musik barangkali lebih dramatis dari apa yang ditunjukkan oleh penelitian Dr. Alfred Tomatis, MD peletak dasar teori terapi musik “gebrakan besar dalam daya kreatif dan penyembuhan oleh suara dan musik pada umumnya dan efek Mozart pada khususnya!”

Sebagai orang pertama yang memahami fisiologi yang membedakan antara ‘mendengarkan’ (listening) dan ‘mendengar’ (hearing), Alfred Tomatis menciptakan model tentang pertumbuhan telingan dan perkembangannya dengan meninjau cara kerja sistem vestibular atau kemampuan untuk memberikan keseimbangan dan mengatur gerakan otot-otot internal. Karena itu, musik diyakini mampu menghibur jiwa, membangkitkan semangat serta menjernihkan pikiran dan mampu mengusir kesedihan.

Musik Mozart niscaya mempengaruhi yang mendengarkan bahkan sangat mungkin bisa memperbaiki persepsi spasial dan mampu memperjelas bentuk komunikasi yang dikehendaki oleh hati maupun pikiran. Irama, melodi dan frekuensi (tingggi) Mozart mampu merangsang dan menjangkau wilayah-wilayah kreatif dan memotivasi otak. Begitu murni dan sederhana. Transparansi, lekuk-lekuk dan irama di dalam ruangan terbuka dalam mengubah dan menjelajah jiwa (soul). Kekuatan musik Mozart sangat beragam, tergantung gubahannya, pemusiknya, pendengarnya, sikap tubuh saat mendengarkan dan banyak faktor lagi.

Bisa dimaklumi, konon saat Mozart masih dalam kandungan, setiap hari ia ‘wajib’ mendengar musik terutama permainan biola ayahnya. Mungkin, tanpa disadari semua itu meningkatkan perkembangan neurologisnya serta membangkitkan irama-irama kosmik dalam rahim ibunya.

Selain darah musik yang kental di tubuh Mozart – ayahnya seorang pemimpin orkes, ibunya anak seorang musisi - adalah suasana musikal semenjak kecil di lingkungannya membuat Mozart ‘matang’ di dunia musik.

Usia 12, tanpa kenal lelah Mozart bekerja dalam dunianya, dunia musik. Tak kurang 17 opera, 41 simfoni, 27 konserto untuk piano dan musik-musik untuk organ, klarinet dan alat musik lain diselesaikan dengan sangat bagus. Sampai akhir hayatnya, Mozart telah melahirkan tak kuran 626 gubahan besar. Karya-karyanya selalu diwarnai nuansa damai, tak pernah ada gejolak.

Orang seringkali mendengarkan musik hanya sambil lalu, tanpa menyadari pengaruhnya. Padahal musik sangat (bisa) merangsang dan menghanyutkan jiwa atau biasa-biasa saja atau bahkan terlalu invasive. Yang jelas, musik sangat bisa mempengaruhi fisik maupun mental. Untuk bisa mengatakan bahwa musik mampu ‘berperan’ bagi kehidupan manusia kita harus meninjau lebih dalam apa sesungguhnya yang bisa kita peroleh dari musik.

Sungguh terapi musik bisa diandalkan demi tujuan-tujuan tersebut di atas. Berikut manfaat dari program terapi musik:

• Mampu menutupi bunyi dan perasaan yang tidak menyenangkan
• Mampu memperlambat dan menyeimbangkan gelombang dalam otak
• Mempengaruhi pernafasan
• Mempengaruhi denyut jantung, nadi dan tekanan darah manusia
• Bisa mengurangi ketegangan otot dan pemperbaiki gerak dan koordinasi tubuh
• Bisa mempengaruhi suhu tubuh manusia
• Bisa meningkatkan endorfin
• Bisa mengatur hormon (hubungannya dengan stress)
• Mengubah persepsi tentang ruang dan waktu
• Bisa memperkuat memori dan kemampuan akademik
• Bisa merangsang pencernaan
• Bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia
• Bisa meningkatkan penerimaan secara tak sadar terhadap simbolisme
• Bisa menimbulkan rasa aman dan sejahtera
• Bisa mengurangi rasa sakit
• Barangkali masih banyak yang bisa dilakukan oleh musik sebagai terapi

Memang hingga saat ini belum ada jawaban yang meyakinkan mengapa musik mampu mempengaruhi jiwa seseorang. Namun, secara empirik telah bisa dibuktikan manfaat-manfaatnya. Nah, apakah kita masih kurang yakin?

Penatalaksanaan Gangguan Belajar Pada Anak

oleh dr Ika Widyawati, SpKJ

Pendahuluan
Dalam menyongsong era globalisasi ini, dibutuhkan suatu modal agar kita dapat sukses melalui era ini. Modal yang terpenting adalah kualitas dari sumber daya manusianya sendiri, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain tingkat pendidikannya.


Dibutuhkan bermacam faktor penunjang agar dapat tercapai tingkat pendidikan optimal yang diharapkan. Selain sarana dan prasarana seperti tempat pendidikan, kondisi sosial-ekonomi, lingkungan masyarakat, dan keluarga yang menunjang tercapainya tingkat pendidikan yang baik, ada satu faktor penting lain yang berasal dari dalam sumber daya manusianya sendiri, yaitu faktor kecerdasan.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak, yaitu faktor internal (dari dalam diri anak itu sendiri) dan faktor eksternal (faktor luar).

Faktor internal tentunya sangat tergantung pada perkembangan fungsi otaknya, yang terjadi sejak ia masih berada di dalam kandungan ibu, oleh karenanya faktor gizi ibu dan anak sangatlah penting untuk diperhatikan.
Selain hal tersebut di atas ada faktor lain pada diri anak itu sendiri yang dapat mempengaruhi kecerdasannya, yaitu faktor emosi dan perilaku dari anak tersebut. Dalam kondisi emosi dan perilaku yang terganggu tentunya anak tidak dapat tumbuh kembang dengan optimal. Ia akan mengalami berbagai macam hambatan dalam tumbuh kembangnya, seperti gangguan perkembangan fisik, gangguan dalam bidang akademis, dalam interaksi sosial dengan lingkungannya dan sebagainya.

Selain hal itu faktor eksternal juga sangat penting untuk diperhatikan, karena rnempunyai dampak yang cukup besar pada turnbuh kembang anak bila faktor ini mengalami masalah.
Kondisi-kondisi seperti ini apabila tidak dideteksi sedini mungkin dan mendapatkan pertolongan secepatnya, dapat mengakibatkan perkembangan anak terganggu, termasuk kecerdasannya.
Diharapkan dengan intervensi dini anak akan tumbuh kembang dengan optimal sesuai dengan kemampuannya.

Perkembangan Otak (1,2)
Perkembangan otak manusia terjadi sejak di dalam kandungan, masa pra-natal, masa pasca-natal, masa dewasa dan usia lanjut. Pada rnasa awal periode perkembangan (pada usia 2-4 bulan, saat bayi mulai menyadari akan lingkungan sekitamya dengan puncak pada usia 8 bulan) terjadi pertumbuhan sel-sel otak yang sangat cepat. Bahkan pada anak usia 2 tahun, jumlah jaringan saraf dan metabolisme di otak dua kali orang dewasa dan hal ini menetap sampai usia 10-11 tahun.
Karena itulah otak yang sedang berkembang mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk memperbaiki diri (plastisitas otak) dan menemukan jalan untuk mengadakan kompensasi. Masa ini kita sering sebut dengan istilah Golden age/usia emas.

Pada menjelang masa remaja (sekitar 18 tahun) plastisitas otak makin berkurang, namun kekuatannya makin meningkat, sehingga segala talenta yang telah ada sebelumnya kini slap dipraktekkan.
Faktor genetik (nature) dan lingkungan (nurture) sering saling mempengaruhi. Potensi yang ada pada seorang anak merupakan modal dasar, namun apakah hal ini kelak akan dipergunakan secara positif atau negatif sangatlah tergantung dari stimulasi yang diperoleh atau pengaruh lingkungannya.

Pada masa dewasa, meskipun tidak dapat dibentuk sel-sel otak baru pada susunan sarafnya, namun setiap sel saraf mampu untuk mengadakan cabang dan hubungan antar sel saraf yang baru guna mengkompensasi sel-sel yang rusak.

Berbagai penyebab yang dapat mempengaruhi perkembangan otak:

Pada masa prenatal:
Kelainan kromosom dan genetic yang banyak dijumpai ialah sindroma down akibat trisomi 21.
Infeksi intra-uterine: rubella, toxoplasmosis, syphilis, herpes, cytomegalo virus, varicella, encefalitis virus dan lain-lain.
Obat-obatan yang bersifat teratogenik yang diminum ibu hamil, misal antibiotik (tetrasiklin), phenytoin, progesteron-estrogen, lithium.
Stres maternal yaitu hormon yang berhubungan dengan stres, seperti kortikosteroid, akan masuk ke dalam janin melalui plasenta ibu dan dapat mempengaruhi sistem kardiavaskuler janin.
Pada wanita dengan tingkat kecemasan yang tinggi sering mempunyai bayi yang hiperaktif dan iritabel, mempunyai gangguan tidur dan berat badan lahir rendah serta pola makan yang buruk.
Kondisi ibu dengan diabetes, gangguan endokrin, kekurangan nutrisi, kelaparan, ketergantungan zat dan obat.
Pemakaian alkohol pada ibu hamil dapat terjadi Sindroma fetal alkohol, terdapat hambatan pertumbuhan (berat badan, panjang badan), pelbagai anornali (bola mata yang kecil, garis tangan yang pendek dan sebagainya), mikrosefali, riwayat perkembangan yang terlambat, hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, kesulitan belajar, kejang, defisit intelektual.
Merokok saat hamil dapat mempengaruhi berat badan lahir bayi
Kondisi seperti di atas dapat menimbulkan berbagai kelainan otak antara lain:
- Anensefali (tulang kepala tidak terbentuk, terjadi sebelum umur janin 24 hari)
- Mikrosefali (keadaan dengan ukuran lingkar kepala lebih kecil dari ukuran baku)
- Megalensefali (merupakan pembesaran jaringan otak).

Pada masa pascanatal:
· Proses kelahiran yang lama dan sulit, dapat menimbulkan kekwangan zat oksigen di otak, yang berdampak pada kelainan saraf seperti serebral palsi, retardasi mental, gangguan inteligensi, epilepsi dan gangguan perilaku.
· Infeksi yang menyerang susunan saraf pusat dapat disebabkan oleh kuman atau virus. Infeksi virus ini menyebabkan radang dari jaringan otak atau ensefalitis, merupakan penyebab terbanyak dari keterlarnbatan perkembangan mental maupun kemunduran taraf perkembangan yang telah dicapai. Infeksi kuman yang menyebabkan radang selaput otak atau meningitis yang terbanyak adalah karena kuman tuberkulosis. Secara klinis ditemukan kelumpuhan anggota gerak, gangguan kesadaran, maupun gangguan perkembangan mental/ernosi. Penyakit kronik, apalagi bila dirawat di rumah sakit, akan menimbulkan kegelisahan pada anak dan juga pada orang tuanya. Sering mereka mengalami reaksi stres atau gangguan penyesuaian, akibat terhentinya sekolah dan anak kurang mendapat stimulasi selama sakit.
· Penyaakit konvulsif seperti epilepsi, terutama bila sering kejang dapat menyebabkan kelainan neurologik dan gangguan perkembangan mental/emosi. Setiap serangan kejang dapat menimbulkan gangguan metabolisme dan fungsi dari sel saraf dan menyebabkan kerusakan sel itu sendiri. Semakin sering dan lama anak menderita kejang, semakin banyak gangguan yang terjadi pada susunan saraf pusat. Anak juga sering mengalami stres dan gangguan psikososial, perasaan malu dan rendah diri. Makin muda usia waktu timbulnya epilepsi, makin banyak ditemukan retardasi mental.
· Gangguan gizi pada anak dapat mempengaruhi perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Anak yang menderita gangguan gizi berat memperlihatkan tanda-tanda apati, kurang menunjukkan perhatian terhadap sekitar, dan lambat bereaksi terhadap suatu rangsangan. Umumnya anak yang menderita gangguan gizi membutuhkan lebih banyak waktu untuk belajar dibandingkan anak normal. Juga anak-anak ini lebih mudah mendapat infeksi sekunder yang akut maupun kronik, anemia clan sebagainya. Gangguan gizi berat dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan jaringan otak, ditunjukkan dengan berkurangnya ukuran lingkar kepala.
· Anemia kekurangan zat besi yang biasanya kronik dapat pula menyebabkan gangguan perkembangan baik fisik maupun mental.

Berbagai kondisi yan dapat menimbulkan kesulitan belajar dan gangguan emosi/perilaku pada anak:

1) Akibat penempatan anak yang tidak sesuai dengan taraf kemampuannya

a) Kondisi ini dapat terjadi pada anak dengan taraf kecerdasan di bawah rata-rata atau yang disebut retardasi mental, yaitu gangguan yang mempunyai gambaran utama:
i) Fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang cukup bermakna
ii) Perilaku adaptif terganggu
iii) Timbul sebelum usia 18 tahun
Anak-anak ini lambat dalam perkembangan mentalnya, sehingga kemampuannya untuk belajar juga terbatas dibandingkan dengan anakanak seusianya. Sering terjadi anak ditempatkan di kelas/sekolah yang tidak sesuai dengan taraf kemampuannya yang terbatas itu. Orang tua yang belum dapat menerima kondisi anaknya yang demikian ini, cenderung masih enyangkal dan menutupi kenyataan yang ada dengan melemparkan kesalahan pada orang lain atau bahkan semakin menuntut anak itu dengan memberinya berbagai macam les setiap hari. Anak seakan-akan hidup hanya untuk belajar, walau demikian ia selalu gagal dan sering dimarahi, diejek, dibandingkan dengan anak lain. Akibatnya la semakin malas untuk berusaha dan belajar terus. Rasa benci dan marah timbul dalam dirinya, balk terhadap teman, guru dan orang tuanya. Perasaan emosinya itu lalu diekspresikan dalam bentuk tingkah laku yang mengganggu. Hal ini semakin membuat lingkungan tidak menyukainya dan terjadilah kondisi yang semakin merugikan perkembangan anak itu. Bakat-bakat yang lain yang potensial ia miliki juga menjadi terhambat perkembangannya.

b). Kondisi anak dengan taraf kecerdasan yang superior, sering mengalami kesulitan belajar dalam situasi pendidikan bagi anak rata-rata.

Diperlukan waktu yang lebih singkat untuk mengerjakan tugas-tugasnya di sekolah, sisa waktu ia pakai untuk mengganggu teman atau asyik melamun sendiri. Hal ini lama kelamaan menjadi lebih menarik dibanding pelajarannya. Akhirnya anak ketinggalan dan mengalami kesukaran dalam mengikuti pelajaran. Prestasi akademiknya akan menjadi buruk, dalam kondisi demikian baik guru maupun orang tua akan mempunyai kesan yang negatif terhadap anak ini. Demikian pula anak, ia akan semakin bereaksi negatif terhadap proses belajar. Akibat selanjutnya adalah anak jadi semakin malas belajar, menghindar untuk belajar dan ada kemungkinan tidak naik kelas. Untuk mengatasi kedua masalah di atas adalah menempatkan anak pada tempat yang sesuai dengan kemampuannya, serta sikap orang tua dan guru harus disesuaikan dengan kondisi anak.

2) Gangguan yang terjadi akibat belum tercapainya kesiapan belajar (learning readiness). Kemampuan untuk belajar menulis, membaca dan berhitung berkembang bersama dengan proses pematangan kepribadian dan kecerdasan secara keseluruhan. Kesulitan belajar sering terjadi karena anak tidak/belum memiliki taraf kematangan yang diperlukan untuk siap belajar. Hal ini dapat disebabkan :
a) anak memang belum mencapainya, karena masih terlalu kecil muda.
b) anak gagal mencapainya karena kelainan dalam dirinya atau karena pengaruh lingkungannya.
Anak yang terlalu kecil, masih belum mampu untuk menerima pelajaran seperti di sekolah. Ia tidak dapat duduk tenang terlalu lama dan melaksanakan tugas yang diberikan dengan tuntas dan sempurna. Melalui proses perkembangan yang wajar, anak akan sampai pada batas kemampuan tersebut. Ada anak yang lebih cepat sampai pada taraf siap belajar, ada yang lebih lambat. Batas usia berkisar antara 41Q tahun, dengan rata-rata usia 6-7 tahun. Bila pelajaran dipaksa diberikan pada anak-anak yang belum siap, rnereka akan mengalami hal yang kurang menyenangkan berkenaan dengan belajar. Lebih lagi apabila suasana belajarnya itu menegangkan dan menakutkan. Kelak bila kesiapan belajarnya itu muncul, anak secara emosional sudah terlanjur mempunyai kesan yang kurang menyenangkan terhadap belajar, anak akan berusaha mengelak dari hal-hal yang berhubungan dengan belajar. Untuk mencegah hal ini, jangan mengajar anak dengan paksa, anak bukan objek melainkan subjek dalam proses belajar, pelajaran/metode yang diberikan adalah untuk anak, bukan anak untuk pelajaran/metode, jangan hanya mengejar target prestasi sekolah tapi pikirkanlah target prestasi yang mampu dicapai si anak.

3) Gangguan yang timbul akibat pembiasaan yang kurang menyenangkan yang berhubungan dengan proses belajar. Anak mau belajar karena sayang dan senang, ini merupakan prinsip yang penting dalam pendidikan seorang anak.
Cara mengajar anak pada umumnya dapat menggunakan dua macam cara :
a) dengan cara memberi hadiah (rewards), yaitu usaha belajar anak diarahkan untuk memperoleh sesuatu yang menyenangkan bila la mau belajar atau mencapai prestasi tertentu.
b) dengan cara memberi hukuman (punishment) bila la tidak mau belajar, yaitu usaha belajar anak diarahkan untuk menghindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan:
Ternyata cara a) cenderung dipertahankan lebih lama oleh anak, karena usaha belajar itu diasosiasikan dengan hal yang menyenangkan. Sebaliknya cara b) cenderung menimbulkan asosiasi yang negatif terhadap proses belajar, karena anak akan melihat guru/orang tua sebagai figur yang tidak menyenangkan. Kondisi ini bila dibiarkan akan dapat berakibat buruk, karena kesan ini akan menempel terus pada anak. Berbagai masalah emosi dan perilaku dapat muncul sebagai akibatnya, cemas, depresi, fobia sekolah dsb. Prestasi betajarnya tidak akan pernah baik, sehingga dapat menimbulkan kesan kecerdasannya lebih rendah dari yang sebenarnya. Diperlukan intervensi dini dengan dibimbing oleh guru yang berpengalaman dan dalam suasana yang menyenangkan, untuk mengubah persepsinya tentang belajar. Perlu penanganan terpadu bila telah timbul gangguan emosi dan perilaku.

4) Gangguan dalam hubungan anak dengan orang yang bermakna.
Proses beiajar merupakan proses pengolahan aktif dalam diri anak, dan terjadi daiam konteks hubungan antar manusia. Kemauan untuk belajar, yaitu untuk memperoleh ketrampilan dan kepandaian tertentu, timbul karena berbagai motif.
Salah satu adalah kebutuhan untuk identifikasi, baik dengan orang dewasa maupun dengan teman sebaya.
Mekanisme psikik ini perlu diperhatikan. Di sini letak pentingnya peranan pribadi guru sebagai figur identifikasi utama di sekolah. Khususnya guru-guru kelas bermain, taman kanak-kanak dan kelas-kelas pertama sekolah dasar, merupakan figux utama yang mencerminkan `orang luar numah', dan perantara utama yang membantu dan membimbing anak memasuki `dunia luar rumah'. Hendaknya mereka itu memiliki sifat-sifat pelindung dan pembimbing, orang tua yang bijak, dan bukan sebagai oxang yang ditakuti, menuntut dan menghukum. Hubungan guru-murid harus diwarnai oleh rasa sayang dan kagum, sehingga anak mau mendengar dan mengerjakan apa yang ditugaskan guru. Ia ingin jadi seperti guru.
Pentingnya peranan teman-teman dalam proses identifikasi merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam pergaulan. Anak seringkali ingin melakukan apa yang dilakukan oleh teman sebayanya. Motif untuk bersaing antar ternan, dapat meningkatkan atau menghambat gairah belajar.
Hubungan yang kurang menyenangkan antara anak dengan orang tuanya, dapat menimbulkan permasalahan dalam proses belajar. Situasi keluarga yang kurang harrnonis, yang tidak menciptakan suasana belajar dalam rumah, juga orang tua yang terlalu ambisius dan terlalu mementingkan pelajaran sekolah, akan membuat gairah belajar anak menurun, anak akan jenuh dan kondisi ini sering menjadi arena `pertempuran' antara anak dan orang tua. Rasa kecewa dan marah terhadap orang tuanya, diekspresikan anak melalui belajar. Menurunnya prestasi belajar secara sadar atau tidak, digunakannya untuk mengecewakan orang tua.
Intervensi utama pada kasus seperti ini adalah memperbaiki hubungan orang tua-anak, melalui terapi individual untuk anak dan terapi keluarga untuk semua anggota keluarga yang terlibat dengan anak, disamping terapi remedial yang intensif.

5) Konflik-konflik intrapsikik yang dapat menghambat proses belajar dapat berupa gangguan cemas masa kanak atau remaja, gangguan depresi pada anak dan remaja. Untuk dapat belajar dengan balk, individu harus mampu memusatkan perhatian dan mengarahkan energi mentalnya pada hal-hal yang akan dipelajarinya itu. Konflik mental yang biasanya dirasakan dalam bentuk berbagai perasaan cemas, rasa salah, rasa dosa, dsb. menyebabkan anak tidak mampu berkonsentrasi, daya pikir untuk belajar jadi menurun, karena sebagian besar energi mentalnya itu ditarik untuk menyelesaikan konfliknya tersebut. Diperlukan intervensi secepatnya untuk mengatasi hal ini, terutama dengan melakukan pendekatan individual.

6) Cara-cara pendidikan yang terlalu memanjakan anak dapat menimbulkan permasalahan pada emosi dan perilakunya. Anak-anak yang terlalu dilayani dan dimanja, cenderung tidak ulet dalam usaha mencapai sesuatu. Mereka cepat meninggalkan tugas yang sulit, dan lebih banyak menuntut pemuasan segera tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Belajar baginya adalah sesuatu yang sangat membosankan, karena `tidak enak', `harus mikir', `capai' dsb. Mereka cenderung mengandalkan orang lain dan kurang memiliki rasa tanggung jawab.

Tipe-tipe orang tua (Michael Rutter menggambarkan adanya 4 tipe orang tua):
1. Otoriter: orang tua yang keras dan kaku dalam mendidik anak, sehingga dapat menimbulkan depresi pada anak.
2. Permisif orang tua selalu menuruti kemauan anak dan Walk ada batasan yang dibuat dalam mendidik anak, hal ini dapat mengakibatkan k;-:ntrol impuls yang buruk pada anak.
3. Acuh tak acuh/mengabaikan: orang tua mengabailr:xn dan kurang memperhatikan pengasuhan anaknya, kondisi ini biasanya rn_emicu timbulnya perilaku yang agresif pada anak.
4. Timbal-balik: orang tua akan mempertimbangkan secara rasional setiap keputusan yang diambil bersama, kondisi seperti ini akan menimbulkan rasa percaya diri pada anak.
Bentuk terapi keluarga sangat dibutuhkan di sini, sehingga interaksi antar anggota keluarga akan berjalan sesuai fungsinya kembali, disamping terapi individual untuk anak.
Secara umum telah dibuktikan dalam berbagai penelitian bahwa pola pengasuhan yang paling efektif adalah yang:
- Konsisten
- Memberikan penghargaan (reward) untuk perilaku yang baik
- Memberikan hukuman (punishment) untuk perilaku yang tidak diinginkan, dan diberikan dalam suatu lingkungan yang hangat dan penuh cinta kasih.

7) Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (5°6)
Yaitu gangguan dengan gambaran utama kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktif serta impulsif yang tidak sesuai dengan taraf perkembangannya. Ia sangat mudah tertarik pada banyak hal disekitarnya, sehingga ia tidak dapat lama berkonsentrasi dan proses belajar tidak dapat berjalan dengan baik. Kondisi ini dapat di dasari oleh kecemasan, yang pada anak-anak diekspresikan melalui tingkah laku yang meningkat, terus gelisah, dan tidak dapat diam. Biasanya hal ini berhubungan dengan suatu situasi kehidupan tertentu. Sedangkan pada kondisi yang didasari oleh kelainan fisiologis otak, hiperaktivitas dan gangguan konsentrasinya tidak ada hubungan dengan situasi tertentu, jadi dapat muncul kapan saja dan dimana saja. Penanganan segera diperlukan agar anak dan lingkungannya tidak terkondisi dengan perilakunya itu. Biasanya diperlukan farmakoterapi dan terapi perilaku yang intensif.

8) Autisme masa kanak-kanak, yaitu gangguan perkembangan pada anak dengan gambaran utama adanya gangguan komunikasi verbal/non-verbal, gangguan pada interaksi sosial, sulit mengadakan kontak mata, aktivitas motorik sering meningkat tidak terkendali, gerakan yang diulang-ulang dan hampir 75% dengan retardasi mental. Permasalahan sering muncul bila masalah emosi dan perilakunya menjadi dominan, apalagi ketika anak-anak ini telah belajar di sekolah. Sering sulit untuk menilai sejauh mana kecerdasan anak tersebut, karena tertutup oleh pengaruh gejala-gejala lain yang lebih dominan.
Membutuhkan terapi yang komprehensif dan terpadu dari berbagai disiplin ilmu.

9) Gangguan emosi dan perilaku yang disebabkan oleh ketergantungan zat/obat. Permasalahan yang muncul sangat kompleks pada anak dengan masalah ini, sehingga sangat diperlukan kerjasama yang baik antara orang tua-anak dengan para terapisnya. Lingkungan yang lebih dominan dalam permasalahan ini patut mendapat perhatian khusus, sehingga tidak sampai mengganggu prestasi akademiknya.

Pemeriksaan yang Diperlukan(2)
Sebagairnana sudah kita bicarakan di atas, semua permasalahan yang muncul dalam bentuk kesulitan belajar dan dampaknya pada prestasi belajar anak, tidaklah berdiri sendiri melainkan hanya salah satu dari beberapa gejala suatu sindroma sebenarnya latar belakang dari kesulitan tersebut.

Untuk itu diperlukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut, meliputi:
. Pemeriksaan fisik/neurologis untuk memeriksa apakah ada kemungkinan kelainan organik yang mendasari kesulitan belajar itu.
. Pemeriksaan psikiatris dan berbagai aspek psikososial lainnya untuk melihat adanya kemungkinan konflik kejiwaan, persoalan-persoalan dalam hubungan keluarga dan hubungan dengan orang lain disekelilingnya, cara mendidik dsb. yang berperan dalam kesulitan itu.
. Pemeriksaan psikometris untuk mengetahui taraf kecerdasan serta potensi yang dimiliki anak.

Hal itu diperlukan untuk dapat memperoleh gambaran yang jelas dan pengertian yang mendalam mengenai keadaan anak tersebut, sehingga dapat direncanakan suatu penatalaksanaan yang komprehensif dan terpadu, baik untuk anaknya sendiri maupun untuk keluarga.

DEFINISI GANGGUAN BELAJAR lLearning Disorders= LD (Diagnostic & Statistical Manual of Mental Disorders [DSM-IVJ): (2°4)
· Diagnosis gangguan belajar ditegakkan bila hasil yang dicapai di bidang membaca, maternatik, atau menulis di bawah hasil yang semestinya dapat dicapai sesuai dengan tingkat usia, akademik dan inteligensinya.
· Problem belajar sangat erat kaitannya dengan pencapaian hasil akademik dan aktivitas sehari-hari.
Di AS: 5% murid di sekolah umum mengalami LD. Hampir 40% nya mengalarni putus sekolah (1,5 X populasi umurn). Orang dewasa dengan LD biasanya mengalami kesulitan dalam pekerjaan dan adaptasi sosialnya. Orang dengan LD mempunyai proses kognitif yg abnormal: kelainan di bidang persepsi visual, bicara, atensi, dan daya ingat.

Jenis jenis LD:
- Gangguan membaca (Disleksia)
- Gangguan matematik (Diskalkulia)
- Gangguan menulis ekspresif (Spelling Dyslexia, Spelling Disorder)
- Gangguan belajar lainnyaltidak spesifik


Gangguan Membaca (Disleksia):
Adalah ketrampilan membaca yang berada di bawah tingkatan usia, pendidikan dan inteligensi anak.
Ciri khasnya: gagal dalam mengenali kata-kata, lambat & tidak teliti bila membaca, pemahaman yang buruk.
· 4% dari anak usia sekolah di AS
· anak laki-laki 3-4 kali > anak perempuan

Gangguan. emosi & perilaku yang sering menyertai: - ADHD, Conduct disorder, & depresi (remaja)

Gangguan Matematik (diskalkulia)
Adalah ketrampilan matematik yang berada di bawah tingkatan usia, pendidikan dan inteligensi anak
Ciri khasnya adalah kegagalan dalam ketrampilan :
o linguistik (memahami istilah matematika, mengubah soal tulisan ke simbol matematika),
o perseptual (kemampuan untuk memahami simbol dan mengurutkan kelompok angka)
o matematik (+/-/x/: dan cara mengoperasikannya)
o atensional (mengkopi bentuk dengan benar, mengoperasikan simbol dengan benar)
o Prevalensi ± 5% anak usia sekolah
o Anak perempuan > anak laki-laki
o Biasanya disertai gangguan belajar yang lain
o Kebanyakan terdeteksi ketika berada di kelas 2 dan 3 SD (6-8 th)

Gangguan Menulis Ekspresif (Spelling Dyslexia, Spelling Disorder)
Adalah ketrampilan menulis yang berada di bawah tingkatan usia, pendidikan dan inteligensi anak
Banyak, ditemukan kesalahan dalam menulis dan penarnpilan tulisan yang buruk (cakar ayam)
Biasanya sudah tampak sejak kelas 1 5D
Rasa frustrasi, marah oleh karena kegagalan dalam prestasi akademik menyebabkan munculnya gangguan depresi yang kronis

Bagaimana Penatalaksanaan yang Komprehensif dan Terpadu Itu ? (2-3,4)
Anak merupakan bagian dari keluarga, ia hidup dalam keluarga. Ia tidak berdiri sendiri, ia mempunyai keterkaitan yang erat dengan semua anggota keluarga, berikut semua permasalahan yang ada. Oleh karenanya setiap permasalahan pada anak merupakan suatu tanda adanya bentuk 'permasalahan' lain dalam keluarga itu, yang mungkin belum muncul ke permukaan, sehingga sering orang tua tidak menyadari hal ini. Oleh karenanya untuk menanggulangi masalah ini diperlukan suatu pendekatan tim, yang terdiri dari tenaga medis (dokter anak, psikiater anak, dokter rehabilitasi medik), tenaga psikolog dan tenaga pendidik/remedial, ahli terapi wicara, okupasi, fisioterapis, petugas sosial.

Tergantung dari permasalahan yang muncul, maka suatu kombinasi dari cara-cara pengobatan di bawah ini perlu dipertimbangkan:
· Farmakoterapi: disesuaikan dengan kondisi gangguan yang ada
o Stimulan: methylphenidate
o Neuroleptika: misalnya Haloperidol, Risperidone.
o Anti depresan: golongan Trisiklik anti depresan, SSRI (mis.Fluvoxamine, Fluoxetine, Sertraline), RIMA (Moclobomide).
o Anti anxietas: misalnya buspirone, hydroxyzine dihydrochloride.
· Psikoterapi : termasuk terapi individual, terapi keluarga, terapi kelompok.
· Terapi lainnya : termasuk terapi edukasi khusus, wicara, perilaku, okupasi & fisioterapi.

Kesimpulan
Gangguan belajar pada anak merupakan suatu gangguan yang sangat kompleks baik penyebab maupun penanganannya. Untuk ini diperlukan satu tim terpadu, yang terdiri dari tenaga medis (dokter anak, psikiater anak, dokter rehabilitasi medik), psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, fisioterapis dan tenaga pendidik/remedial yang dapat mengatasi permasalahan gangguan belajar ini secara komprehensif dan terpadu.

Daftar Pustaka
1. Gordon MF: Normal Child Development. In Comprehensive Texbook of Psychiatry Vol. II, seventh edition, Sadock BJ, Sadock VA, editors. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2000
2. Kaplan HI, Sadock BJ: The Brain and Behavior. In Synopsis of Psychiatry, Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, eight edition. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 1998
3. Sameroff AJ, Lewis M, Miller SM: Handbook of Developmental Psychopathology, second edition. Kluwer Academic/Plenum Publishers, New York, 2000.
4. Spagna ME, Cantwell DP, Baker L: Learning Disorders. In Comprehensive Texbook of Psychiatry Vol. II, seventh edition, Sadock BJ, Sadock VA, editors. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2000.
5. McCracken JT: Attention-Deficit Disorders. In Comprehensive Texbaok of Psychiatry Vol. II, seventh edition, Sadock BJ, Sadock VA, editors. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2000.
6. Pliszka SR, Carlson CL, Swanson JM: ADHD with Comorbid Disorders, Clinical Assessment and Management. The Guilford Press, New York, 1999.
7. Volkmar FR, Min A: Pervasive Developmental Disorders. In Comprehensive Texbook of Psychiatry Vol. II, seventh edition, Sadock BJ, Sadock VA, editors. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2000.

Mengembangkan Keterampilan Anak Anda Di rumah

Banyak kegiatan bisa dilakukan di ruah. Sesuatu yang bersifat main-main, ternyata bisa bermanfaat bagi anak-anak Anda di rumah. Anak-anak sangat memerlukan ‘pengalaman bergerak’. Tulisan berikut ini, akan menuntun Anda mengikuti rangkaian kegiatan sederhana namun efektif serta akan mengenalkan beberapa permainan untuk membantu anak Anda mencapai kemahiran dalam gerakan-gerakan dasar dan keterampilan yang berhubungan dengan olahraga.
Cuplikan dari buku “SPORTSTART”. Developing Your Kids’ Skills at Home” (Ausie Sport).


Tiap saat, anak melakukan banyak gerakan dan aktivitas olahraga. Sekolah mengenalkan berbagai macam pengalaman yang terstruktur dan (juga) menyediakan instruksi keterampilan dasar di dalam tatanan masyarakat. Perkumpulan lain selain sekolah juga menyediakan kesempatan untuk lebih mengembangkan keterampilan dan partisipasi bertanding/pertandingan dalam kaitannya berolahraga.
Namun, orang tua dan pengasuh (pembantu) juga mempunyai peran sebagai lawan main (sparning-partner) bagi anak. Dalam hal ini, orangtua dan pengasuh (pembantu) dalam posisi yang unik untuk mendukung dan membimbing anak dalam mengembangkan keterampilan.

Berdasarkan usia anak, kegiatan dalam Sportstart dibagi dalam tiga bagian, yakni:
1. Awal kegiatan dapat dimulai dengan memberikan suatu benda. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa membuat gerakan. Ditujukan bagi anak berusia 3 – 6 tahun.
2. Membangun keterampilan dasar. Misalnya melempar bola. Menyediakan aktivitas dasar. Ditujukan bagi anak berusia 6 – 8 tahun.
3. Menyempurnakan keterampilan. Misalnya kegiatan bermain sepakbola. Menyediakan keterampilan umum. Ditujukan bagi anak berusia 8 – 12 tahun.

Peran Orangtua.
Tenaga dan antusia/ketertarikan anak pada sesuatu dapat dihubungkan dengan pengalaman di mana ia belajar mengenai tubuhnya, diri mereka dan bagaimana mereka menangani dirinya saat memerlukan gerakan yang melibatkan orang lain, permainan dan aktivitas keterampilan dasar.
Anak adalah seorang siswa yang aktif. Mereka membutuhkan gerak untuk belajar. Dalam proses belajar bergerak dengan keterampilan, ketelitian disertai rasa gembira. Bermain bagi anak biasanya merupakan hal yang spontan dan tidak terstruktur. Tapi, bila memperoleh dorongan (motifasi) yang tepat dan benar akan bisa menghasilkan keterampilan yang optimal dalam waktu yang bersamaan.
Berikan pengertian kepada anak bahwa, bila bisa menguasai keterampilan dapat membuat ‘bermain’ menjadi suatu hal yang mengasyikkan.
SECARA fisik, mulailah dengan bermain yang diarahkan pada keterampilan motorik dan pola-pola gerakan.
SECARA Kognitif, beri kesempatan agar bisa memecahkan masalah dan aktivitas yang berkaitan agar anak mengenal jati dirinya.
SECARA sosial, berikan kesempatan berinteraksi agar memiliki PD (percaya diri), kemampuan berkomunikasi dan mengerti hak dirinya sendiri maupun orang lain.

Macam-Macam Kecerdasan

MULTIPLE INTELEGENCE
Cuplikan dari buku
“Teaching Kids With Learning Difficulties in The Reguler Classroom” (Susan Winebrener).
Diterjemahkan oleh Farida Kadarusno


Sebenarnya, kalau sejak dini kita bisa “mengerti” macam kecerdasan yang kita mau dan jeli,
dimiliki anak kita !

Setelah kita membuat suasana belajar yang kondusif dan nyaman untuk anak didik kita, langkah berikutnya adalah mengaplikasikan pendekatan gaya belajar kepada kurikulum dan aktivitas belajar.
Dr. Howard Gardner mengembangkan teori macam-macam kecerdasan yang digunakan manusia untuk memecahkan masalahnya.
Pada umumnya siswa cenderung mempunyai kekuatan dalam satu atau dua macam kecerdasan. Walau demikian di kemudian hari mereka akan cukup mahir dalam beberapa mcam kecerdasan, jadi tujuan kita sebagai guru adalah mengenalkan/mempertunjukkan/menjelaskan kepada siswa sebagai macam cara kegiatan/aktivitas belajar.

Kecerdasan Berbahasa.(Linguistic Intelegence).
Orang yang berbakat dalam bidang bahasa dapat mengerti dan menggunakan bahasa dengan mudah. Mereka berpikir logis, analisis, berurutan dan hasil pekerjaannya menunjukkan hal tersebut. Mereka gemar membaca, menulis, mengingat informasi (walaupun hal yang remeh), berbicara dan membuat kosa-kata (mereka sangat pandai mengeja).
Tidak ada rahasia dalam mengajar siswa yang mempunyai kekuatan ini, mereka suka bersekolah dan sekolah suka dengan mereka.

Kecerdasan Matematis-Logis (Logical-Mathematical Intelegence).
Siswa tipe ini menggunakan angka dan konsep matematik dengan mudah. Mereka memahami penjelasan abstrak dan sering tertarik pada IPA. Mereka tertarik pada bagaimana benda dapat bekerja, bergerak, mereka suka pada permainan, teka-teki, komputer. Mereka dapat mengenali pola dan sering mempunyai cara yang tak biasa dalam memecahkan masalah, walaupun mereka tak dapat menjelaskan cara ‘bekerja’. Banyak pemikiran yang baik yang ada di benak kepala mereka.
Tips: Ajarkan matematik dari konkret ke abstrak, hubungkan hal yang abstrak ke dalam keseharian. Gunakan komputer untuk membantu belajar, mnemoniik, cara visual dalam bentuk gambar.

Kecerdasan Spasial-Visual (Visual-Spasial Intelegence).
Siswa ini mengerti hubungan antara bentuk dan gambaran dalam berbagai ruang/bidang yang berbeda. Mereka dapat dengan mudah menggambarkan secara artistik atas apa yang mereka lihat. Mereka sangat terampil dalam membongkar dan memasang kembali barang-barang. Mereka akan mencoret-coret dan menggambar setiap waktu dan membuat gambar multi-dimensi. Mereka gemar puzzle, khususnya yang tiga dimensi, kemungkinan mereka mahir dalam permainan papan catur misalnya. Mereka sangat menguasai arah dan mudah memahami peta. Siswa dengan kekuatan dalam bidang ini memiliki potensi yang besar untuk sukses dalam penemuan teknologi.
Tips: Pertunjukkan video, film atau presentasi secaravisual lainnya, atas apa yang Anda inginkan siswa untuk mempelajari sesuatu hal; Gunakan cara visual dan bentuk gambar serta menggunakan perbedaaan warna; Ilustrasikan apa yang dibicarakan dengan overhead atau gambarkan pada papan tulis; Minta siswa memvisualisasikan apa yang mereka pelajari. Perkenankan mereka untuk membuat model (dari lego dan material lain 3 dimensi) untuk mendemonstrasikan hal yang mereka ketahui. Buat lingkungan menjadi ‘berwarna’ dengan menggantungkan poster, ilustrasi dan label di seputar dinding kelas. Bila mengajarkan IPA gunakan material yang konkret, adakan kunjungan ke tempat-tempat yang berkaitan dengan mata pelajaran.

Kecerdasan Ritmis-Musikal (Musical-Rhytmic Intelegence).
Calon pemusik memahami teori musik dan dapat memainkan musik dengan ‘rasa’ kadang tanpa instruksi formal. Sudah menjadi pembawaannya untuk selalu ‘mendengar’ bunyi dan nada. Mereka mempunyai pemahaman yang sangat baik terhadap irama, mereka akan membuat ‘ketukan’ setiap waktu dengan stik, pensil, kayu atau apa saja. Mereka senang menyanyi, bersenandung sambil bekerja. Mereka mempunyai kesadaran akan keriuhan suasana dan bunyi lebih peka dari lainnya. Mereka mempunyai kemampuan untuk mengimprovisasikan atau membuat aransir baru untuk sepotong lagu.

Kecerdasarn Kinestik-Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelegence).
Pada budaya yang menghargai olahraga ini merupakan bentuk kecerdasan yang dapat diterima. Orang yang memiliki kecerdasan Kinestetik-tubuh dapat bergerak dengan anggun, kuat dan lentur. Mereka menikmati latihan badan dan menjaga fisiknya dengan baik. Mereka membutuhkan kesempatan untuk sering bergerak, dan biasanya mereka menyukai permainan yang menggunakan gerakan. Mereka sangat cakap dalam memanipulasi obyek dan oke dalam ketrampilan. Mereka dapat menirukan gerakan, tingkah laku maupun mimik orang lain. Mereka dapat belajar dengan baik bila mereka dapat merasakan atau mempunyai pengalaman atas apa yang dipelajari. Duduk dalam waktu yang lama sangat tidak nyaman buat mereka.
Tips; Gunakan drama, pantomim dan pembacaan cerita, puisi dan lain-lain. Buat beberapa tempat belajar didalam kelas dan perbolehkan siswa bergerak di antaranya, satukan pelajaran dengan musik atau siswa dapat menyanyikan dalam bentuk rap atau berirama. Pergunakan cara Mnemonic; Mereka dapat menggunakan ‘tubuhnya’ sebagai ‘peta’; Misalnya mata – kota Jakarta dan Bandung, hidung – kota Cirebon dan seterusnya. Gunakan materi belajar yang dapat melibatkan mereka secara fisik.

Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelegence).
Orang dengan tipe ini adalah pemimpin kita masa kini dan masa depan. Ia dapat bekerjasama dengan baik dengan banyak orang dan memimpin mereka, ia mudah mengerti dan menanggapi mood dan perasaaan orang. Sayangnya terkadang bakat ini tidak digunakan dalam hal yang positif, banyak pemimpin ‘gang’ (penjahat) yang memiliki kemampuan ini.
Tips; Gunakan cara belajar dengan kerjasama dan berikan kesempatan ia untuk memimpin, berikan beberapa variasi dalam tugas-tugas dan perbolehkan mereka untuk membuat pemecahan yang unik. Siswa tipe ini akan sangat berkembang dalam simulasi pelatihan dan dapat menjadi tutor atau mediator bagi teman-temannya.

Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelegence).
Orang dengan tipe ini memahami dirinya lebih baik dari orang lain. Mereka sangat termotivasi dengan tujuannya dan tidak terlalu perduli dengan apa yang orang lain pikir mengenai dirinya. Mereka dapat belajar denganb aik bila mereka dapat menghubungkan apa yang mereka ingin pelajari dengan apa yang telah ada dalam ingatannya.
Tips; Beri ia kesempatan untuk menulis jurnal tentang topik favoritnya, yaitu dirinya sendiri. Biarkan ia bekerja sendiri (bukan team work). Mereka cenderung menolak kerjasama. Perbolehkan ia untuk menentukan dan mencapai tujuannya dan bawa (sedapat mungkin) atas apa yang ia minati ke dalam kegiatan sekolah. Mereka dapat belajar dengan optimal bil mereka dapat memilih topik atau proyeknya sendiri.

Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelegence).
Orang dengan kecerdasan ini memiliki pengetahuan yang mengagumkan mengenai alam, seperti flora dan fauna, mempunyai kemampuan dan kepekaan bagaimana suatu benda dapat dimasukkan ke suatu kategori (walaupun benda tersebut tidak termasuk benda alami). Mereka senang ikan, kebun, memasak dan sangat teliti dalam mengamati apa yang menjadi perhatiannya.
Tips: Mereka menyukai tanaman hidup dan binatang. Perbolehkan mereka belajar botani dengan menanam tanaman dalam pot di kelas atau dihalaman sekolah. Berikan semangat untuk membuat taman di rumah. Karena mereka adalah pengamat yang baik. Minta mereka untuk mencatat hasil observasi dari binatang yang dipelihara. Mereka lebih suka membangun atau menggambar ekosistem daripada membaca tentang hal tersebut. Karena itu, siswa tipe ini berikanlah beberapa pilihan.

Gangguan Autisme

• Merupakan salah satu jenis dari sekelompok gangguan yang disebut sebagai gangguan perkembangan pervasif.
• Gangguan ini merupakan gangguan perkembangan yang kompleks dan berat pada anak.
• Gejala biasanya sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun.
• Gejala – gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang :
- Komunikasi.
- Interaksi sosial timbal balik.
- Perilaku dan emosi.
- Sistim sensorik.

• Komunikasi.
- Terlambat bicara.
- Tidak ada usaha untuk berkomunikasi dengan bahasa tubuh.
- Meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti.
- Mengulang pembicaraan lawan bicaranya ( membeo ).
- Tidak memahami pembicaraan orang lain.

• Interaksi sosial timbal balik.
- Tidak mampu membentuk kontak mata yang adekuat dengan lawan bicaranya.
- Tidak mau menengok jika dipanggil walaupun tidak ada gangguan pendengaran.
- Lebih asyik dengan diri sendiri.
- Tidak mau menjalin relasi yang adekuat dengan teman sebayanya.
- Tidak mampu berempati dengan lingkungan sekitarnya.


• Perilaku dan emosi.
- Acuh terhadap lingkungan.
- Sulit diatur, semau-maunya.
- Perilaku tidak terarah, seperti mondar-mandir, lari-lari tanpa tujuan, lompat-lompat, teriak-teriak, dll,
- Menggerak-gerakan anggota tubuhnya tanpa arti yang jelas.
- Agresif dan destruktif.
- Terpukau pada benda-benda yang berputar.
- Perilaku ritualistik, kelekatan dengan benda tertentu.
- Tertawa, menangis dan marah-marah tanpa sebab.

• Persepsi sensoris.
- Menjilat-jilati dan mencium-ciumi benda yang ada disekitarnya.
- Menutup telinga bila mendengar nada suara tertentu.
- Tidak suka memakai bahan pakaian dengan tekstur tertentu.

Kesulitan Belajar

Kesulitan Belajar atau "Learning Disabilities, LD" adalah hambatan/gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.
Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.

Bila tidak ditangani dengan baik dan benar akan menimbulkan berbagai bentuk gangguan emosional (psikiatrik) yang akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidupnya di kemudian hari.

Kepekaan orangtua, guru di sekolah serta orang-orang di sekitarnya sangat membantu dalam mendeteksinya, sehingga anak dapat memperoleh penanganan dari tenaga profesional sedini dan seoptimal mungkin, sebelum menjadi terlambat.

Kesulitan Belajar kadang-kadang tidak terdeteksi dan tidak dapat terlihat secara langsung. Setiap individu yang memiliki kesulitan belajar sangatlah unik. Seperti misalnya, seorang anak "dyslexia", yang sulit membaca, menulis dan mengeja, tetapi sangat pandai dalam matematika.

Pada umumnya, individu dengan kesulitan belajar memiliki intelegensi rata-rata bahkan diatas rata-rata. Seseorang terlihat "normal" dan tampak sangat cerdas tetapi sebaliknya ia mengalami hambatan dan menunjukkan tingkat kemampuan yang tidak semestinya dicapai dibandingkan dengan yg seusia dengannya.
Walau demikian, individu dengan kesulitan belajar bisa sukses di sekolah, di dunia kerja, dalam hubungan antar-individu, dan di dalam masyarakat bila disertai dengan dukungan dan perhatian yang tepat.

Deteksi Dini Kesulitan Belajar
Tanda-tanda Kesulitan Belajar sangat bervariasi dan tergantung pada usia anak.

Pada Usia Pra-Sekolah:
-Keterlambatan berbicara jika dibandingkan dengan anak seusianya
-Adanya kesulitan dalam pengucapan kata
-Kemampuan penguasaan jumlah kata yang minim
-Seringkali tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat
-Kesulitan untuk mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
-Mengalami kesulitan dalam menghubung-hubungkan kata dalam suatu kalimat
-Kegelisahan yang sangat ekstrim dan mudah teralih perhatiannya
-Kesulitan berinteraksi dengan anak seusianya
-Menunjukkan kesulitan dalam mengikuti suatu petunjuk atau rutinitas tertentu
-Menghindari pekerjaan tertentu seperti menggunting dan menggambar

Pada Usia Sekolah:
-Daya ingatnya (relatif) kurang baik
-Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca. Misalnya huruf d dibaca b, huruf w dibaca m. (buku dibaca duku)
-Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya
-Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matemetika, misalnya tidak dapat membedakan antara tanda – (minus) dengan +(plus) , tanda + (plus) dengan x (kali), dan lain-lain.
-Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat
-Sangat aktif dan tidak mampu menyele-saikan satu tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas
-Impulsif (bertindak sebelum berpikir)
-Sulit konsentrasi atau pehatiannya mudah teralih
-Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah atau di rumah
-Tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya
-Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-harinya
-Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah tersinggung atau acuh terhadap lingkungannya
-Menolak bersekolah
-Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu
-Ketidakstabilan dalam menggenggam pensil/pen
-Kesulitan dalam mempelajari pengertian tentang hari dan waktu

Pada Usia Remaja dan Dewasa:
-Membuat kesalahan dalam mengeja berlanjut hingga dewasa
-Sering menghindar dari tugas membaca dan menulis
-Kesulitan dalam menyimpulkan suatu bacaan
-Kesulitan menjawab suatu pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan
-Kemampuan daya ingat lemah
-Kesulitan dalam menyerap konsep yang abstrak
-Bekerja lamban
-Bisa kurang perhatian pada hal-hal yang rinci atau bisa juga terlalu fokus kepada hal-hal yang rinci
-Bisa salah dalam membaca informasi

Individu dengan Kesulitan Belajar atau Learning Disabilities (LD) membutuhkan ...
- Identifikasi sedini mungkin
- Tes dan observasi untuk memper-oleh gambaran apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya
- Rencana Pembelajaran Individual (Individual Education Program/IEP)
- Dukungan dari orangtua dan guru (pendidik) yang memahami kesulitan belajar
- Konseling dari profesional terkait
- Pengembangan kemampuan dan ketrampilan untuk mandiri
- Pendidikan kejuruan dan pelatihan kerja
- Memiliki atasan yang dapat memahami keadaannya


Note: Cuplikan dari
- National Institute of Health, USA.
- Learning Disabilities Association of America
diterjemahkan oleh Sylvia Untario

Kemampuan Berbahasa Pada Anak Asperger

oleh
Vitriani Sumarlis, Psi
Klinik Anakku Cinere
Juni 2001

Pada salah satu sudut kelas terlihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih 9 tahun, sedang tekun menggambar sementara ibunya sedang berbicara dengan gurunya di depan kelas. Ia terlihat sangat asyik menggambar tanda-tanda (icon) yang terdapat pada program Microsoft Word, dengan tarikan garis yang sangat pas, sangat detil hingga seolah-olah kita sedang berhadapan dengan layar komputer dan siap bekerja dengan program Microsoft Word. Ketika salah seorang rekan gurunya datang menghampiri, anak laki-laki tersebut terlihat tidak memperdulikannya namun tiba-tiba dia menyapa dan memulai pembicaraan dengan kata “Ini tanda apa!” sambil menunjuk simbol W yang mewakili Microsoft Word. Belum sempat guru tersebut menjawab, ia sudah melanjutkan kata-kata berikutnya berupa penjelasan dari tanda-tanda yang dibuatnya ;.”new….open….save….print….” dan seterusnya hingga tanda-tanda yang digambarkannya selesai disebutkan. Intonasi selama pembicaraan terlihat datar dengan wajah tanpa ekspresi. Ia terlihat seolah-olah ingin berkomunikasi dengan guru yang menghampirinya, namun kontak mata hanya sesekali. Percakapan hanya berlangsung satu arah, formal dengan topik pembicaraan terbatas dan berulang hanya pada tanda-tanda Microsoft Word.

Gambaran di atas mewakili karakteristik yang ditunjukkan oleh anak dengan sindrom asperger, yaitu gangguan perkembangan yang berada dalam spektrum autis. Kondisi yang dialami mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan interaksi sosial dua arah, komunikasi verbal dan non verbal yang miskin dan keengganan untuk menerima perubahan. Cara berpikir mereka kurang luwes dan rentang minat sangat terbatas, mendalam pada bidang-bidang tertentu yang menjadi minatnya saja seperti matematika, ilmu pengetahuan, binatang atau komputer. Kecerdasan mereka normal bahkan cenderung di atas rata-rata. Pada anak-anak dengan tingkat gangguan yang sangat ringan seringkali tidak terdiagnosa dan mungkin tampil hanya sebagai anak yang aneh atau eksentrik.

Dalam gambaran yang lebih umum, anak-anak dengan sindrom asperger sulit untuk berteman dengan anak-anak seusianya, kurang dapat memahami tanda-tanda sosial yang diperlukan. Penggunaan bahasa terlihat aneh dan mereka cenderung untuk mengartikan apa yang didengar atau dibaca secara literal, hanya berdasarkan arti kata yang sebenarnya. Kepada mereka perlu diajarkan keterampilan sosial dengan menjelaskan situasi sosial dari waktu ke waktu.

Salah satu kemampuan yang terganggu pada anak-anak dengan sindrom asperger adalah kemampuan berbahasa, yang pada akhirnya juga mempengaruhi keterampilan mereka dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa hampir 50 % anak-anak dengan sindrom asperger terlambat dalam perkembangan bicara, tetapi mereka biasanya dapat berbicara dengan lancar pada saat berusia 5 tahun (Eisenmajer, dkk dalam Attwood, 1998). Meskipun demikian, cara mereka berbicara sangat aneh, tampak nyata pada saat mereka kurang dapat mengembangkan percakapan yang wajar. Penguasaan fonologi (pengucapan) dan sintaksis (tata kalimat) mengikuti pola yang sama dengan anak-anak yang lain, namun perbedaan utama tampak pada kemampuan pragmatis (penggunaan bahasa pada konteks sosial), semantik (pemahaman suatu kata memiliki beberapa arti) serta prosodi (tinggi rendah, tekanan dan ritme suara).

Berikut ini adalah strategi penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu kesulitan berbahasa yang dialami.

Kemampuan Pragmatis
Lebih umum dikenal sebagai seni dalam berbicara. Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali mengalami kesulitan untuk memulai interaksi dengan orang lain karena mereka sulit untuk menempatkan kalimat pembuka pada suatu percakapan sesuai dengan situasi sosial yang sedang dihadapi. Misalnya dalam menghadapi tamu orangtuanya yang datang ke rumah, salah seorang anak dengan sindrom asperger akan berkata “Halo, apakah kamu menyukai ikan pari?”, ketika tamu tersebut baru memasuki ruang tamu. Kemudian ia akan meneruskan pembicaraan dengan memberikan penjelasan yang lebih detil tentang topik tersebut secara ilmiah hingga selesai. Percakapan akan berlangsung satu arah, meskipun lawan bicaranya terlihat bosan atau menginginkan pembicaraan dihentikan. Atau tiba-tiba saja seorang anak dengan sindrom asperger mengomentari tamu ibunya dengan berkata “Tante bertubuh besar”, dimana anak tersebut tidak menyadari wajah merah ibunya atau tamu tersebut karena malu atau marah.

Yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah:
· Mengajarkan mereka berbagai kalimat pembuka percakapan disesuaikan dengan berbagai situasi sosial, yang umum dilakukan orang.
· Ajarkan pula mereka untuk meminta penjelasan ketika mengalami kebingungan. Berikan dukungan agar mereka lebih percaya diri untuk mengakui “Saya tidak tahu” karena umumnya anak-anak dengan sindrom asperger tidak ingin terlihat oleh orang lain bahwa mereka tidak tahu.
· Mengajarkan mereka tanda-tanda kapan harus memberikan jawaban balasan, menginterupsi suatu percakapan atau mengubah topik pembicaraan.
· Mendampingi dan membisikkan anak apa yang harus dikatakannya pada suatu percakapan yang lebih kompleks. Secara bertahap, anak didukung untuk memulai percakapannya sendiri.
· Abaikan anak ketika mereka memberikan komentar-komentar yang tidak relevan dalam suatu percakapan.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan tersebut di atas adalah melalui bermain peran atau menggunakan balon bicara tentang cerita sosial seperti percakapan yang terdapat dalam komik. Melalui balon bicara, reaksi emosi yang muncul pada suatu percakapan dapat divisualisasikan melaui gambar atau warna.

Kemampuan Semantik
Anak-anak dengan sindrom asperger cenderung menginterpretasikan apa yang orang lain katakan secara literal. Mereka kurang dapat memahami berbagai kemungkinan arti dari suatu kata, yang dapat disesuaikan dengan konteks sosialnya. Mereka kurang dapat menyadari arti kata yang tesembunyi, implisit atau bermakna ganda. Misalnya “dalam bekerja sama kita harus saling berpegangan tangan” yang mereka artikan berpegangan tangan dalam arti yang sebenarnya. Karena kekurangannya tersebut, anak-anak ini kurang memahami olokan teman, aturan permainan atau humor.

Dalam mengatasi permasalahan tersebut sebaiknya orangtua atau guru:
· Menyederhanakan pembicaraan, disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka.
· Membuatkan buku catatan kecil yang berisi contoh kata-kata kiasan dan alternatif arti yang terkandung di dalamnya. Kemudian cobalah untuk menerapkan kata-kata tersebut dalam cerita sosial, yang dapat dibantu melalui percakapan dalam komik.

Prosodi
Dalam suatu percakapan, pengubahan intonasi dan besarnya suara dilakukan untuk memberikan penekanan pada kata-kata kunci atau emosi tertentu. Variasi tersebut tidak ditemukan pada anak-anak dengan sindrom asperger karena pembicaraan mereka cenderung datar, monoton dan tanpa disertai ekspresi wajah yang sesuai.

Melalui latihan drama, anak dapat diajarkan untuk memodifikasi tekanan, ritme dan tinggi rendahnya suara. Lebih lanjut, penanganan oleh terapis wicara dapat membantu mengatasi masalah tersebut.

Disamping kesulitan-kesulitan berbahasa di atas, pada saat berkomunikasi anak-anak dengan sindrom asperger seringkali menemukan hambatan berkaitan dengan:

· Kesulitan untuk membedakan dan/gangguan suara
Mereka menemukan kesulitan ketika harus memperhatikan suara seseorang diantara suara orang lainnya yang berbicara pada saat bersamaan. Hal ini dapat terjadi misalnya ketika suara guru menerangkan pada kelas yang bersebelahan saling terdengar. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan untuk memahami penjelasan guru atau pun instruksi yang diberikan. Yang dapat dilakukan oleh guru atau orangtua adalah:

- Memberikan dukungan kepada anak untuk meminta pengulangan instruksi dengan lebih singkat dan dengan bahasa yang lebih mudah untuk dipahami.
- Mintalah anak untuk mengulang kembali intruksi yang telah diberikan untuk mengetahui penerimaannya.
- Beri jeda setiap selesai menyampaikan suatu kalimat/instruksi.
- Untuk membantu penerimaan anak terhadap penjelasan guru di kelas, berikan tugas pada anak untuk membaca terlebih dahulu materi baru yang akan diajarkan.

· Kecenderungan untuk berbicara sendiri
Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali berbicara sendiri ketika sedang bermain sendiri atau sedang bersama orang lain. Mereka menjadi terlihat aneh dan kegiatan yang mereka lakukan mengganggu perhatian orang lain. Tidak jarang mereka menjadi bahan olokan teman-temannya atau instruksi guru menjadi terabaikan.

Bila kegiatan tersebut sudah menganggu orang lain, ajarkan mereka untuk berbisik-bisik saja.

· Kelancaran verbal
Pada saat anak-anak asperger memiliki antusiasme yang sangat tinggi terhadap minat mereka, mereka akan membicarakan minat tersebut secara terus menerus dan seringkali membuat orang lain yang mendengarkannya merasa bosan. Oleh karena itu sebaiknya mereka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda kapan dia harus berhenti berbicara. Sebaliknya pada saat anak-anak ini menjadi diam atau kehilangan kata-kata mereka, guru dan orangtua hendaknya mewaspadai kemungkinan mereka sedang memiliki kecemasan yang sangat tinggi sehingga memerlukan penanganan ahli.

Pada dasarnya anak-anak dengan sindrom asperger merupakan anak-anak yang cerdas, bahagia dan penuh dengan kasih sayang. Bila kita dapat membantu mereka menembus “dunia kecil” mereka, kita dapat membantu mengatasi permasalahan mereka untuk menjadi lebih baik dalam masyarakat.

Attention-Deficit / Hyperactivity Disorders (ADHD) Gangguan Pemusatan Perhatian / Hiperaktivitas (GPP/H)

Hardiono D. Pusponegoro

Pendahuluan

Attention-deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu gangguan perilaku yang ditandai gangguan pemusatan perhatian (inattentiveness), perilaku impulsif (impulsivity), dan dapat disertai aktivitas berlebihan (overactivity/hyperactivity) yang tidak sesuai dengan umurnya. 1-6 ADHD merupakan gangguan perilaku yang paling sering ditemukan pada anak. ADHD ditemukan pada sekitar 4­12% di antara anak sekolah.l Di dalam masyarakat, diperkirakan ADHD pada sekitar 9,2% laki-laki dan 2,9% perempuan.' Di Indonesia, ADHD jarang didiagnosis. Alasan mengapa diagnosis ADHD jarang ditegakkan tidak diketahui, mungkin disebabkan masih kurangnya perhatian dokter dan masyarakat mengenai ADHD.

ADHD menyebabkan gangguan jangka panjang dalam kemampuan akademik, perkembangan sosial-emosi, pekerjaan, dan menyebabkan dampak terhadap penderita, keluarga, sekolah dan masyarakat.l°3 Dalam makalah ini akan dikemukakan mengenai gejala dan diagnosis ADHD, berbagai kemungkinan penyebab, serta penatalaksanaan ADHD.

Manifestasi Klinis

Anak dengan ADHD menunjukkan berbagai kombinasi gangguan fungsi1'"6, yaitu:

Inattentiveness atau gangguan pemusatan perhatian

Anak dengan ADHD tidak dapat memusatkan perhatian pada suatu hal. Gangguan pemusatan perhatian menyebabkan anak tidak rnampu rnemberikan perhatian untuk waktu lama, mudah terpengaruh oleh stimulus lain misalnya suara atau sesuatu yang dilihat, tidak dapat menyelesaikan pekerjaan atau permainan, tidak mendengar dan mematuhi instruksi, sulit mengorganisasi benda-benda miliknya atau mengorganisasi aktivitas, sering lupa, dan ceroboh. Ia sulit mengikuti acara TV sampai selesai.

Impulsivitas, hiperaktivitas

Impulsivitas berarti anak melakukan sesuatu atau berkata-kata tanpa dipikir terlebih dahulu. Impulsivitas bicara terlihat berupa sikap terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum mendapat informasi. Mereka cenderung menyela pembicaraan, terbentur pada seseorang atau tidak sengaja merusak pekerjaan orang lain.

Ciri lain adalah kegagalan untuk melakukan perilaku yang dibatasi oleh aturan. Mereka sulit mengikuti aturan permainan, aturan sekolah, dan aturan umum dalam kehidupan sehari-hari dan dalam hubungan dengan kawan.

ADHD dapat disertai hiperaktivitas atau tanpa hiperaktivitas. Anak yang hiperaktif sering terlihat bermain dengan jari tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam pada saat anak lain duduk dengan manis, berlari dan memanjat berlebihan, tidak bisa menunggu giliran pada saat bermain. Ia selalu berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Anak seperti digerakkan oleh motor dan berbicara terlalu banyak. Pada adolesen hiperaktivitas merupakan rasa gelisah dan tidak dapat diam (restlesness).

Anak yang mengalami ADHD tanpa hiperaktivitas cenderung disebut sebagai anak lamban, pengantuk, pelamun, tidak agresif, menunjukkan gejala depresi, dan kurang bergaul. Deteksi ADHD pada anak-anak ini lebih sulit.

Hati-hati dalam menentukan apakah anak mengalami ADHD atau tidak:

Gejala ADHD harus menetap untuk minimal 6 bulan. Gejala ADHD akut dapat disebabkan berbagai hal lain, misalnya stress atau gangguan medis.

Gangguan fungsi harus disesuaikan dengan usia perkembangan anak dan harus dibandingkan dengan anak sebaya. Anak kecil selalu lebih hiperaktif dibanding anak yang lebih besar. Anak prasekolah umumnya mampu memperhatikan cerita yang pendek, tetapi bukan yang panjang. Bila hanya ada gejala tetapi tidak menyebabkan gangguan fungsi, belum dapat digolongkan dalam ADHD.'

Gejala dan gangguan fungsi tersebut harus terlihat di berbagai tempat berbeda, misalnya di rumah, di sekolah, dan dalam hubungannya dengan teman bermain. Bila gejala hanya muncul di satu lingkungan, tetapi tidak muncul di lingkungan lain biasanya anak bukan mengalami ADHD.

Gejala sekunder atau komplikasi


Dalam jangka panjang, masalah sekunder lebih merusak dibanding rnasalah primer. 1-5 Anak dengan ADHD sering mengalami kecelakaan karena terlalu banyak lari dan memanjat, dikombinasi dengan perilaku impulsif dan kurang perhatian terhadap bahaya dan peringatan. Adolesen dengan ADHD sering mengalami tabrakan saat mengendarai kendaraan. Di bidang olahraga, mereka sering tidak diikutkan karena tidak mau mengikuti aturan permainan, lagipula mereka sering mengalami gangguan koordinasi motorik (clumsy). Dalarn bidang akademis mereka sering mendapat ranking yang lebih rendah daripada yang diharapkan. Angka ujian sering tidak konsisten, naik-turun, walaupun intelegensinya normal atau bahkan superior. Mereka tidak bisa menerima materi pelajaran dengan utuh karena kurangnya perhatian, ketidak mampuan mengorganisasi dan kurangnya kemampuan belajar. Mereka sulit mengikuti ujian karena kurang perhatian dan impulsivitas, dan sering gagal menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah.

Perilaku impulsif sering menyebabkan benturan dengan teman, guru, dan orang tua. Hal ini dapat menyebabkan mereka dikeluarkan dari sekolah atau dipindahkan ke kelas lain. Teman-teman cenderung menghindari bergaul dengan anak yang mengalami ADHD karena kelakuannya yang agresif, impulsif dan tidak mengikuti peraturan. Karena dijauhi, mereka mengalami kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dan mengalami depresi.'-5

Diagnosis ADHD

ADHD adalah diagnosis Minis yang harus memenuhi kriteria DSM-IV seperti dapat dilihat pada larnpiran.6 Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan kombinasi keterangan mengenai riwayat penyakit, pemeriksaan medis, dan observasi terhadap perilaku anak.

Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan EEG digital, brain mapping, potensial evoked, dan pencitraan kadang-kadang rnenunjukkan beberapa hasil yang mungkin berguna, tetapi umumnya hanya dilakukan atas indikasi, misalnya ada kecurigaan bahwa gejala ADHI) disebabkan berbagai lesi fokal, kejang atau penyakit degeneratif. 1,2

Dalam melakukan wawancara, beberapa hal harus diperhatikan:

• Wawancara terhadap orang tua merupakan hal yang paling penting. Selain itu, diperlukan laporan dari sekolah mengenai gangguan tingkah laku, kesulitan belajar, kurangnya prestasi akadernis dan seringnya membolos. Laporan­-laporan lain dari orang yang mengenal anak sangat membantu diagnosis.

• Faktor risiko perlu digali, misalnya riwayat keluarga yang mengalami ADHD, kelainan psikiatrik lain, gangguan psikososial, kemiskinan, tidak ada orang tua, atau konflik keluarga. Pada adolesen, dicari juga mengenai kemungkinan penyalahgunaan obat terlarang dan narkotika.

• Beberapa rating scales yang diisi oleh orang tua dan guru dapat digunakan untuk mempermudah pencarian gejala, misalnya Child Behavior Checklist, Teacher Report Form of the Child Behavior Checklist, Conners Parent and Teacher Rating Scales, ADD-H.- Comprehensive Teacher Rating Scale (AC'TeRS), Barkley Home Situations Questionnaire and School Situations Questionnaire dan lain-lain. Kuesioner tersebut ada yang dirancang untuk skrining, ada yang untuk menegakkan diagnosis.

• Uji psikaedukasional dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual dan mencari faktor kesulitan belajar lain yang dapat menunjukkan gejala mirip ADHD, atau muncul bersama ADHD.

Pemeriksaan medis meliputi berbagai hal, misalnya:

- Gangguan pendengaran dan penglihatan harus disingkirkan.

- Malnutrisi atau kurang gizi.

- Pemeriksaan fungsi hormon tiroid hanya bila ada kecurigaan hipo atau hipertiroidisme atau gangguan pertumbuhan atau riwayat dalam keluarga.

- Ada tidaknya beberapa penyakit atau gangguan lain misalnya sindrom Fragile X, Learning Disability atau kesulitan belajar, retardasi mental.' Kesulitan belajar ditemukan pada 10-25% ADHD. Keterlambatan bicara dan berbahasa juga sering ditemukan. Beberapa kasus autisme yang sudah rnengalami perbaikan sering salah diagnosis sebagai AI7HD, bila perkembangan anak di masa lalu tidak diperhatikan.

- Berbagai gangguan psikiatrik lain sering terjadi bersama ADI-IP dan disebut sebagai ko-morbiditas. Ko-morbiditas dilaporkan sampai 50°1° untuk Opposional Disorders (anak yang selalu melawan), 30-50% untuk Conduct Disorders (cenderung melanggar peraturan), 15-20% untuk Mood Disorders, dan 20-25%% untuk anxiety disorders (kecemasan).1°3 ADl-D mempunyai awal munculnya gejala lebih dini, perjalanan klinis menetap, dan adanya riwayat keluarga.

Observasi anak dengan ADHID:

- Gejala ADHD semakin jelas bila anak berada dalam situasi yang tidak diawasi, atau sedang melakukan kegiatan yang memerlukan atensi dan usaha mental terus menerus.

- Walaupun ADHD seharusnya muncul di setiap situasi, gejala mungkin tidak jelas bila penderita sedang melakukan aktivitas yang disukainya, sedang mendapat perhatian khusus, atau berada dalam situasi yang memberi penghargaan kepada tingkah laku yang normal. Dengan demikian, pengawasan selintas di kamar praktek sering gagal untuk menentukan ADHD.

- Observasi di tempat sehari-hari misalnya di sekolah sebenarnya sangat baik, tetapi sulit dilakukan oleh dokter. Dalam hal ini peran guru di sekolah sangat penting.

Penyebab ADHD

Kelainan anatomis

Penelitian diarahkan kepada gangguan otak besar bagian depan yang disebut sebagai lobus frontalis, karena penderita kerusakan lobus frontalis, terutama sisi kanan, menunjukkan gangguan perilaku yang mirip dengan ADHD.' Beberapa penelitian menunjukkan lobus frontalis kanan berukuran lebih kecil.',9

Pencitraan fungsional

Aktivitas bahan kimia di otak saat melakukan suatu aktivitas dapat diukur dengan menggunakan PET (Positron Emission Tomography). Beberapa peneliti melaporkan penurunan aktivitas sirkuit frontostriatal, yang meliputi korteks lobus frontalis, nukleus kaudatus dan globus palidus, pada ADHD. "9

Elektroensefalografi

Pemeriksaan dengan EEG Power Spectral Analysis menunjukkan bahwa penderita ADHD mengalami pengurangan aktivitas daerah frontal kanan.' Secara keseluruhan, para peneliti berpendapat bahwa pada penderita ADHD ditemukan adanya gangguan pada korteks lobus frontalis dan sirkuit frontostriatal, baik kelainan anatornik, fungsi dan aktivitas kelistrikan.

Neurokimia ADHD

Berbagai bahan kimia penghantar impuls listrik yang disebut sebagai neurotransmiter telah diteliti pada kasus ADHD. Terdapat bukti-bukti bahwa pada ADHD terdapat gangguan neurotransmiter, meliputi neurotransmiter noradrenergik/ norepinefrin, dopamin dan serotonin.

Gangguan neurotransmiter dapat berupa:

  1. Kekurangan dopamin. Hal ini lebih sering ditemukan pada ADHD tipe inatensi. ° Methylphenidate meningkatkan kadar dopamin dan menghilangkan gejala. i'
  2. Kelebihan dopamin. Gejala ADHD dapat juga disebabkan kelebihan dopamin dalam sinaps.'Z Peningkatan dopamin di ganglia basal menyebabkan kelebihan energi dan hiperaktivitas. Hiperaktivitas yang disebabkan kadar dopamin yang tinggi dapat diredam dengan meningkatkan serotonin. Z
  3. Kekurangan noradrenergik pada kortek prefrontal mengganggu working memory dan regulasi atensi.'Z Pemberian obat yang meningkatkan kadar noradrenergik, misalnya guanfacine atau clonidine akan mengurangi gejala. Demikian pula pemberian obat yang memperpanjang masa kerja adrenergik, misalnya Anti Depesan Trisiklik akan memperbaiki gejala.
  4. Sistem serotonin. Penelitian terhadap kadar serotonin dalam cairan serebrospinalis dan darah menunjukkan hasil yang kurang konsisten, kadang meningkat kadang menurun.'3 Gangguan pada sistem serotonin akan mengganggu sistem dopamin dan perilaku yang tergantung dopamin.l3 Bila diberikan obat serotonergik, baik jenis SSRI atau prekursor serotonin, pasien menjadi lebih tenang.

Genetik

Saudara kandung dan sepupu mempunyai risiko yang tinggi.8, '4 Risiko lebih tinggi pada saudara kandung dibandingkan saudara tiri dan kembar satu telur dibandingkan dua telur. Anak dari orang tua yang mengalami ADHD juga mempunyai risiko untuk mengalami ADHD yang lebih tinggi. 4

Penelitian jangka panjang terhadap ADHD menunjukkan bahwa ada subgrup yang mengalami remisi atau menghilangnya gejala pada masa remaja sebanyak 15% dan ada subgrup yang menetap sampai dewasa sebanyak 85%.'S Apakah ada perbedaan genetik antara ADHD yang menetap dan yang mengalami remisi? Faktor genetik lebih berperan pada ADHD yang menetap. Prevalensi AMID pada orang tua adalah 16,3% pada ADHD yang menetap clan 10,8% pada ADHD yang mengalami remisi. Untuk saudara, prevalensi adalah 24,4% untuk ADHD yang menetap dan 4,6% untuk ADHD yang mengalami remisi,

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan ADHD merupakan penatalaksanaan multidisiplin jangka panjang, yang memerlukan evaluasi berulang-ulang untuk menilai efektivitas dan menilai ada tidaknya masalah baru.ACAp'We'de` Rencana pengobatan harus dibuat secara individual, tergantung gejala dan efeknya terhadap kehidupan sehari-hari. Gejala inatensi, impulsivitas clan hiperaktivitas biasanya menunjukkan respons dengan pengobatan, sedangkan gejala perilaku memerlukan modifikasi lingkungan. Psikoterapi mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah hubungan interpersonal sekunder. Terapi psikiatrik clan medis sangat penting bila ada ko-morbiditas.

Pasien mempunyai hak untuk mendapat pendidikan seperti anak lain, tetapi disesuaikan dengan keadaannya. Kekurangan dalam bidang akademis, sosial, dan olahraga mernerlukan penanganan khusus karena ti dak menunjukkan respons terhadap pengobatan atau modifikasi perilaku.

Pemberian informasi terhadap pasien, orang tua, dan guru merupakan baku penatalaksanaan. Penerangan meliputi gejala, fungsi yang terganggu, etiologi, pengobatan, efek dan efek samping obat, perjalanan penyakit dan prognosis, penatalaksanaan perilaku. Beberapa mitos harus dijelaskan misalnya efek paradoksal dari stimulan, ketakutan bahwa obat akan membuat ketergantungan dan bahwa ADT-3D tidak hilang dengan pubertas.

Pengobatan diberikan bila gejala impulsivitas, agresivitas dan hiperaktivitas cukup berat sehingga menyebabkan gangguan di sekolah, di rurnah atau hubungan dengan teman.l6'17 Pengobatan bertujuan untuk menghilangkan gejala, dan sangat rnemudahkan terapi psikologis.

Efektifitas obat diukur dengan hilangnya gejala yang dituju. Dosis ditentukan berdasarkan observasi, laporan orang tua dan guru serta prestasi akademis. Lamanya pengobatan tergantung ada tidaknya gejala yang ingin dihilangkan. Pengobatan bisa berlangsung sampai puber dan dewasa.

Stimulan

Stimulan merupakan obat pilihan pertama.4'16'" Efek samping yang relatif ringan dan mudah diatasi, obat cepat bekerja, dan perhitungan dosis mudah. "W'alaupun jarang terjadi penyalahgunaan, tetap harus waspada terhadap kemungkinan penyalahgunaan obat oleh keluarga.

Sebanyak 96% anak menunjukkan respons berupa perbaikan tingkah laku. Ada perbedaan keberhasilan antara masing-masing anak. Stimulan tetap efektif walaupun digunakan bertahun-tahun dan tidak ada toleransi. Keberhasilan stimulan tidak dapat diprediksi sebelumnya berdasarkan manifestasi klinis dan faktor-faktor lain. Stimulan lebih berguna bila ADHI3 disertai komorbid yang juga menyebabkan agresi. Agresi verbal dan fisik serta perilaku antisosial akan berkurang.

Anak dengan IQ kurang dari 45 sering menunjukkan respons yang buruk. Pada kasus retardasi mental, yang dapat diperbaiki adalah inatensi, impusivitas dan hiperaktivitas, bukan prestasi akademik.

Berbagai stimulan yang digunakan misalnya;

1. Methylphenidate rnerupakan obat yang paling banyak diteliti dan paling baik untuk mengurangi hiperaktivitas dibandingkan stimulan lain. Sayang masa kerja methylphenidate hanya sekitar 6 jam, yang menyebabkan obat harus diberikan 2 kali per hari atau lebih. Jenis obat yang digunakan adalah Ritalie.

2. Dextroamphetarnine mempunyai masa kerja lebih panjang dan lebih murah. Kerugian dextroamphetarnine adalah risiko gagal tumbuh lebih besar dan kemungkinan penyalahgunaan lebih besar.

3. Stirnulan dengan masa kerja panjang digunakari bila gejala sering muncul di malam hari atau sore hari. Yang banyak digunakan adalah Ritalin-SR (sustained release), Dexedrine Spansule* (dextroamphetamine), Cylerto(pemoline), Adderall (campuran garam amphetamine), Desoxyn Gradumet® (methamphetamine). Concerta, suatu preparat baru tampaknya menjanjikan efek terapi yang lebih baik.'A

4. Pengobatan dimulai dengan dosis kecil dan di titrasi tiap minggu tergantung respons dan efek samping. Pengobatan setelah makan mengurangi anoreksia. Pasien tanpa hiperaktivitas sudah bereaksi terhadap dosis rendah. Frekuensi pemberian tergantung keadaan. Dosis methylphenidate adalah 0,3-0,7 mg/kg per dosis, dibulatkan menjadi 2,5 atau 5 mg terdekat.

5. Kadang-kadang diperlukan kombinasi obat yang mempunyai masa kerja panjang dan pendek.

Beberapa efek samping yang harus diperhatikan misalnya:

  1. Terdapat efek samping yang meningkat dengan meningkatnya dosis. Efek samping yang umum pada awal pengobatan adalah iritabel, sakit kepala, nyeri perut dan kehilangan nafsu makan. Menaikkan dosis perlahan-lahan sangat mengurangi efek samping.
  2. Efek rebound berupa meningkatnya gejala, mudah terangsang, bicara banyak, hiperaktivitas dan sulit tidur, yang terjadi 4-15 jam setelah dosis. Untuk mengatasinya dapat diberikan dosis kecil pada malam hari, penggunaan obat dengan masa kerja panjang atau penambahan clonidine atau guanfacine.
  3. Efek gangguan pertumbuhan berupa kurangnya pertambahan berat badan dan tinggi badan jarang yang bermakna. Efek ini tergantung dosis dan lebih sering ditemukan pada dextroamphetamine dibandingkan methylphenidate atau pemoline.
  4. Efek samping lain berupa hipertensi ringan, peningkatan denyut jantung jarang ditemukan. Stimulan tidak menurunkan ambang kejang.

Beberapa obat lain 16,17

Bupropion dapat mengurangi hiperaktivitas dan agresi, serta mungkin mernperbaiki kognisi pada ADHD. Efeknya kira-kira. serupa dengan methylphenidate. Bupropion diberikan 37,5-50 mg dibagi 2-3 dosis. Titrasi dilakukan dalam 2 minggu sampai maksimum 250 mg/hari (300-400 mg/hari pada adolesen). Efek samping adalah penurunan ambang kejang,. terutama pada dosis lebih dari 450 mg/hari. Sampai saat ini pengalaman dengan obat bupropion belum banyak.

Anti Depresan Trisiklik (ADT) dapat digunakan untuk ADHD. ADT dianggap kurang aman pada anak, sehingga lebih baik digunakan sebagai obat lini kedua bagi pasien yang tidak menunjukkan respons terhadap stimulan, menunjukkan depresi yang bermakna, atau untuk pasien dengan tic atau Tourette. Efikasi untuk memperbaiki nilai akademis tidak sebaik stimulan. Efek samping dapat mengenai jantung terutama pada anak prepubertas, dapat terjadi overdosis, ada efek sedasi dan antikolinergik, serta kemungkinan adanya toleransi. Beberapa jenis ADT yang sering digunakan adalah imipramine, desipramine, atau nortriptyline.

Penggunaan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) pada ADHD berasal dari data uji coba terbuka fluoxetine, suatu penelitian penambahan fluoxetine terhadap methylphenidate karena respons kurang, dan kombinasi fluoxetine dan methamphetamine.

Clonidine rnerupakan obat yang menyerupai noradrenergik. Clonidine dapat mengubah suasana hati, mengurangi hiperaktivitas, memperbaiki kooperasi, dan memperbaiki toleransi terhadap frustasi pada ADHD, terutama kasus berat. Clonidine tidak memperbaiki inatensi. Kombinasi dengan stimulan digunakan bila respons terhadap stimulan tidak maksimal atau ada efek samping stimulan pada dosis besar. Clonidine memperbaiki gangguan tidur yang disebabkan oleh efek stimulan atau rebound. Clonidine dimulai dengan dosis 0,05 mg saat tidur atau 4 kali 0,025 mg. Dosis dapat dinaikkan sampai 0,15-0,3 mg/hari dalam 3-4 dosis. Efek clonidine kadang-kadang baru terlihat setelah beberapa bulan. Bila menghentikan clonidine, turunkan dosis perlahan-lahan. Efek samping adalah sedasi, mulut kering, neusea, hipotensi, pusing.

Guanfacine hydrochloride, suatu obat yang mirip noradrenergik dengan masa kerja panjang.

Intervensi psikososial

Berbagai intervensi psikososial telah dilakukan untuk penderita ADHD, orang tua, dan lingkungan. Jenis jenis intervensi misalnya modifikasi perilaku, terapi keluarga, latihan keterampilan sosial, latihan keterampilan akademis, psikoterapi individual, modifikasi perilaku kognitif, rekreasi terapeutik dan pengobatan multimodal. Teknik ini tidak dibahas dalam makalah ini.

Lain-lain

Terapi diit untuk anak dengan ADHD sudah dilakukan sejak 1970, dan masih tetap dilakukan walaupun hasilnya tidak terbukti. Hanya 5% anak menunjukkan perbaikan setelah diit diit Feingold, itupun tidak sedramatis pemberian obat.'9 Yang menunjukkan respons adalah anak yang berumur kurang dari 6 tahun. Diit khusus memerlukan kerja ekstra dan pengeluaran uang tambahan. Terapi diit tidak dianjurkan kecuali mungkin untuk anak prasekolah.

Gula tidak terbukti menyebabkan hiperaktif, demikian pulan caffeine dalam kopi dan soft drinks tidak terbukti menyebabkan hiperaktivitas. Berbagai terapi lain tidak terbukti berhasil, misalnya terapi megavitamin, terapi herbal, anti rnabuk perjalanan, anti candida albicans, biofeedback, sensory integrative training, atau optometric vision training. ty

Prognosis

Sebanyak 30-80°/® kasus tetap menunjukkan gejala ADHD pada masa adolesen dan sebanyak 65% kasus sampai dewasa.4 Riwayat keluarga ADHD, gangguan psikososial dan komorbiditas dengan gangguan konduk, mood dan ansietas meningkatkan risiko menetapnya ADHD.

Delikuensi atau personalitas antisosial pada masa adolesen atau dewasa terlihat pada pemantauan 25-40% anak dengan ADHD. Penderita ADHD diiaporkan mempunyai kecenderungan mencoba narkotika dan mengalami adiksi pada masa adolesen.

Kasus-kasus yang memperlihatkan tingkah laku agresif terhadap orang dewasa, IQ yang rendah, hubungan dengan kawan yang buruk, dan menetapnya gejala ADHD mempunyai prognosis yang kurang balk.

Daftar pustaka

  1. AACAP American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. Practice Parameter for the use of stimulant medications in the treatment of children, adolescent, and adult. J Am Acad Child Adol Psy 41:2002.
  2. American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guideline: Diagnosis and evaluation of the child with ADHD. Pediatrics, May 2000.
  3. American Psychiatric Association, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition (DSM-IV). Washington, 1994.
  4. Arnold LE, Jensen PS. Attention-deficit disorders. In: Kaplan HI, Sadock BJ, eds. Comprehensive Textbook of Psychiatry, 6`h ed, vo12. Baltimore: William & Wilkins, 1995, pp. 2295-311.
  5. Barr CL. Genetics of Childhood Disorders: XXII. ADHD, Part 6: The Dopamine D4 Receptor Gene. J Am Acad Child Adolesc Psy, 49:333-9, 2001.
  6. Baumgaertel A. ADHD. Alternative and controversial treatments for ADHD. Ped Clins North Amer 46:977-92, 1999.
  7. Baving L. Atypical frontal brain activation in ADHD: Preschool and elementary school boys and girls. J Am Acad Child Adolesc Psy 38:1363-71, 1999.
  8. Castellanos FX, Giedd Jn, Marsh WL et al. Quantitative brain magnetic resonance imgaing in ADHD. Arch Gen Psychiatry 53:607-16, 1996.
  9. Connors DF. A Meta-Analysis of Clonidine for Symptoms of Attention-Deficit Hyperactivity Disorder. J Am Acad Child Adolesc Psy. Dec, 1999.
  10. Faraone SV, Biederman J, Weiffenbach B et al. Dopamine D4 gene 7-repeat allele and attention deficit hyperactivity disorder. Am J Psy 156:768-770, 1999.
  11. Faraone SV. Genetics of Childhood Disorders: XX. ADHD, Part 4: Is ADHD genetically heterogenous?. J Am Acad Child Adolesc Psy Nov 2000.
  12. Gainetdinov RR. Genetics of Childhood Disorders: XXIV. ADHD, Part 8: Hyperdopaminergic Mice as an Animal Model of ADHD, J Am Acad Child Adolesc Psy 40:380-2,2001.
  13. National Institute of Health Consensus Panel. Diagnosis and Treatment of ADHD, 1998.
  14. Pelham WE. Once-a-day Concerta methylphenydate versus three-times-daily methylphenydate in laboratory and natural setting. Pediatrics 107:E105, 2001.
  15. Practice Parameters for the Assessment and Treatment of Children, Adolescents, and Adults With Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. J Am Acad Child Adol Psy 36:10 Suppl, October 1997.
  16. Pusponegoro HD. Neurobiologi ADHD. Kongres Nasional Psikiatri, Semarang 2001.
  17. Quist JF. Genetics of Childhood Disorders: XXIII. ADHD, Part 7: The Serotonin System. (attention-deficit/hyperactivity disorder) J Am Acad Child Adolesc Psy. 40:253-6, 2001.
  18. Tannock R. ADHD: advances in cognitive, neurobiological and genetic research. J Child Psychol Psychiatry 39:65-99, 1998.
  19. Wender EH. Managing stimulant medication for ADHD. Pediatr Rev 22:183-90, 2001.

Kriteria diagnosis Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, DSM - IV

A. (1) atau (2)

(1) Enam atau lebih gejala inatensi yang menetap minimal 6 bulan dengan derajat yang menimbulkan maladaptasi atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

Inatensi

- Kegagalan untuk memperhatikan detail atau membuat kesalahan karena tidak berhati-hati

- Mempunyai kesulitan untuk terus menunjukkan atensi pada saat bermain atau mengerj akan tugas.

- Tidak mendengarkan pada saat diajak bicara.

- Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.

- Mengalami kesulitan mengorganisasi tugas dan aktivitas.

- Menghindari atau tidak menyukai kegiatan yang membutuhkan usaha mental terus menerus.

- Kehilangan benda-benda yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas misalnya pinsil, buku, alat-alat.

- Perhatian mudah terpecah karena adanya stimulus eksternal.

- Pelupa

(2) Enam atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas yang menetap minimal 6 bulan dengan derajat yang menimbulkan maladaptasi atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

Hiperaktivitas

• Sering bermain tangan atau tidak bisa duduk diam.

• Sering meninggalkan tempat duduk di sekolah atau pada situasi lain yang memerlukan anak tetap duduk.

• Lari atau memanjat berlebihan pada situasi yang tidak tepat. (Pada adolesen merupakan perasaan gelisah karena harus duduk diam)

• Sering mengalami kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas yang memerlukan diam.

• Selalu bergerak, seperti dikendalikan suatu motor

• Sering bicara berlebihan

Impulsivitas

  • Terlalu cepat menjawab walaupun pertanyaan belum selesai diajukan
  • Sulit menunggu giliran
  • Sering menginterupsi atau mengganggu orang lain

B. Beberapa gejala sudah ada sebelum umur 7 tahun.

C. Beberapa gejala muncul di 2 atau lebih situasi yang berbeda misalnya di sekolah dan di rumah.

D. Harus ada bukti jelas adanya gangguan bermakna dalam bidang sosial, akademis atau pekerjaan.

E. Gejala tidak muncul pada saat perjalanan gangguan psikiatrik lainnya.

Jenis ADHD

  • ADHD, tipe kombinasi. Kriteria A1 dan A2 sudah berlangsung 6 bulan
  • ADHD terutama inatensi. Kriteria A 1 dipenuhi, tetapi kriteria A2 tidak dipenuhi untuk 6 bulan terakhir.
  • ADHD, terutama hiperaktif-impulsif. Kriteria A2 dipenuhi tetapi kriteria A 1 tidak dipenuhi dalam 6 bulan terakhir.