Tuesday, January 03, 2006

Attention-Deficit / Hyperactivity Disorders (ADHD) Gangguan Pemusatan Perhatian / Hiperaktivitas (GPP/H)

Hardiono D. Pusponegoro

Pendahuluan

Attention-deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu gangguan perilaku yang ditandai gangguan pemusatan perhatian (inattentiveness), perilaku impulsif (impulsivity), dan dapat disertai aktivitas berlebihan (overactivity/hyperactivity) yang tidak sesuai dengan umurnya. 1-6 ADHD merupakan gangguan perilaku yang paling sering ditemukan pada anak. ADHD ditemukan pada sekitar 4­12% di antara anak sekolah.l Di dalam masyarakat, diperkirakan ADHD pada sekitar 9,2% laki-laki dan 2,9% perempuan.' Di Indonesia, ADHD jarang didiagnosis. Alasan mengapa diagnosis ADHD jarang ditegakkan tidak diketahui, mungkin disebabkan masih kurangnya perhatian dokter dan masyarakat mengenai ADHD.

ADHD menyebabkan gangguan jangka panjang dalam kemampuan akademik, perkembangan sosial-emosi, pekerjaan, dan menyebabkan dampak terhadap penderita, keluarga, sekolah dan masyarakat.l°3 Dalam makalah ini akan dikemukakan mengenai gejala dan diagnosis ADHD, berbagai kemungkinan penyebab, serta penatalaksanaan ADHD.

Manifestasi Klinis

Anak dengan ADHD menunjukkan berbagai kombinasi gangguan fungsi1'"6, yaitu:

Inattentiveness atau gangguan pemusatan perhatian

Anak dengan ADHD tidak dapat memusatkan perhatian pada suatu hal. Gangguan pemusatan perhatian menyebabkan anak tidak rnampu rnemberikan perhatian untuk waktu lama, mudah terpengaruh oleh stimulus lain misalnya suara atau sesuatu yang dilihat, tidak dapat menyelesaikan pekerjaan atau permainan, tidak mendengar dan mematuhi instruksi, sulit mengorganisasi benda-benda miliknya atau mengorganisasi aktivitas, sering lupa, dan ceroboh. Ia sulit mengikuti acara TV sampai selesai.

Impulsivitas, hiperaktivitas

Impulsivitas berarti anak melakukan sesuatu atau berkata-kata tanpa dipikir terlebih dahulu. Impulsivitas bicara terlihat berupa sikap terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum mendapat informasi. Mereka cenderung menyela pembicaraan, terbentur pada seseorang atau tidak sengaja merusak pekerjaan orang lain.

Ciri lain adalah kegagalan untuk melakukan perilaku yang dibatasi oleh aturan. Mereka sulit mengikuti aturan permainan, aturan sekolah, dan aturan umum dalam kehidupan sehari-hari dan dalam hubungan dengan kawan.

ADHD dapat disertai hiperaktivitas atau tanpa hiperaktivitas. Anak yang hiperaktif sering terlihat bermain dengan jari tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam pada saat anak lain duduk dengan manis, berlari dan memanjat berlebihan, tidak bisa menunggu giliran pada saat bermain. Ia selalu berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Anak seperti digerakkan oleh motor dan berbicara terlalu banyak. Pada adolesen hiperaktivitas merupakan rasa gelisah dan tidak dapat diam (restlesness).

Anak yang mengalami ADHD tanpa hiperaktivitas cenderung disebut sebagai anak lamban, pengantuk, pelamun, tidak agresif, menunjukkan gejala depresi, dan kurang bergaul. Deteksi ADHD pada anak-anak ini lebih sulit.

Hati-hati dalam menentukan apakah anak mengalami ADHD atau tidak:

Gejala ADHD harus menetap untuk minimal 6 bulan. Gejala ADHD akut dapat disebabkan berbagai hal lain, misalnya stress atau gangguan medis.

Gangguan fungsi harus disesuaikan dengan usia perkembangan anak dan harus dibandingkan dengan anak sebaya. Anak kecil selalu lebih hiperaktif dibanding anak yang lebih besar. Anak prasekolah umumnya mampu memperhatikan cerita yang pendek, tetapi bukan yang panjang. Bila hanya ada gejala tetapi tidak menyebabkan gangguan fungsi, belum dapat digolongkan dalam ADHD.'

Gejala dan gangguan fungsi tersebut harus terlihat di berbagai tempat berbeda, misalnya di rumah, di sekolah, dan dalam hubungannya dengan teman bermain. Bila gejala hanya muncul di satu lingkungan, tetapi tidak muncul di lingkungan lain biasanya anak bukan mengalami ADHD.

Gejala sekunder atau komplikasi


Dalam jangka panjang, masalah sekunder lebih merusak dibanding rnasalah primer. 1-5 Anak dengan ADHD sering mengalami kecelakaan karena terlalu banyak lari dan memanjat, dikombinasi dengan perilaku impulsif dan kurang perhatian terhadap bahaya dan peringatan. Adolesen dengan ADHD sering mengalami tabrakan saat mengendarai kendaraan. Di bidang olahraga, mereka sering tidak diikutkan karena tidak mau mengikuti aturan permainan, lagipula mereka sering mengalami gangguan koordinasi motorik (clumsy). Dalarn bidang akademis mereka sering mendapat ranking yang lebih rendah daripada yang diharapkan. Angka ujian sering tidak konsisten, naik-turun, walaupun intelegensinya normal atau bahkan superior. Mereka tidak bisa menerima materi pelajaran dengan utuh karena kurangnya perhatian, ketidak mampuan mengorganisasi dan kurangnya kemampuan belajar. Mereka sulit mengikuti ujian karena kurang perhatian dan impulsivitas, dan sering gagal menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah.

Perilaku impulsif sering menyebabkan benturan dengan teman, guru, dan orang tua. Hal ini dapat menyebabkan mereka dikeluarkan dari sekolah atau dipindahkan ke kelas lain. Teman-teman cenderung menghindari bergaul dengan anak yang mengalami ADHD karena kelakuannya yang agresif, impulsif dan tidak mengikuti peraturan. Karena dijauhi, mereka mengalami kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dan mengalami depresi.'-5

Diagnosis ADHD

ADHD adalah diagnosis Minis yang harus memenuhi kriteria DSM-IV seperti dapat dilihat pada larnpiran.6 Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan kombinasi keterangan mengenai riwayat penyakit, pemeriksaan medis, dan observasi terhadap perilaku anak.

Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan EEG digital, brain mapping, potensial evoked, dan pencitraan kadang-kadang rnenunjukkan beberapa hasil yang mungkin berguna, tetapi umumnya hanya dilakukan atas indikasi, misalnya ada kecurigaan bahwa gejala ADHI) disebabkan berbagai lesi fokal, kejang atau penyakit degeneratif. 1,2

Dalam melakukan wawancara, beberapa hal harus diperhatikan:

• Wawancara terhadap orang tua merupakan hal yang paling penting. Selain itu, diperlukan laporan dari sekolah mengenai gangguan tingkah laku, kesulitan belajar, kurangnya prestasi akadernis dan seringnya membolos. Laporan­-laporan lain dari orang yang mengenal anak sangat membantu diagnosis.

• Faktor risiko perlu digali, misalnya riwayat keluarga yang mengalami ADHD, kelainan psikiatrik lain, gangguan psikososial, kemiskinan, tidak ada orang tua, atau konflik keluarga. Pada adolesen, dicari juga mengenai kemungkinan penyalahgunaan obat terlarang dan narkotika.

• Beberapa rating scales yang diisi oleh orang tua dan guru dapat digunakan untuk mempermudah pencarian gejala, misalnya Child Behavior Checklist, Teacher Report Form of the Child Behavior Checklist, Conners Parent and Teacher Rating Scales, ADD-H.- Comprehensive Teacher Rating Scale (AC'TeRS), Barkley Home Situations Questionnaire and School Situations Questionnaire dan lain-lain. Kuesioner tersebut ada yang dirancang untuk skrining, ada yang untuk menegakkan diagnosis.

• Uji psikaedukasional dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual dan mencari faktor kesulitan belajar lain yang dapat menunjukkan gejala mirip ADHD, atau muncul bersama ADHD.

Pemeriksaan medis meliputi berbagai hal, misalnya:

- Gangguan pendengaran dan penglihatan harus disingkirkan.

- Malnutrisi atau kurang gizi.

- Pemeriksaan fungsi hormon tiroid hanya bila ada kecurigaan hipo atau hipertiroidisme atau gangguan pertumbuhan atau riwayat dalam keluarga.

- Ada tidaknya beberapa penyakit atau gangguan lain misalnya sindrom Fragile X, Learning Disability atau kesulitan belajar, retardasi mental.' Kesulitan belajar ditemukan pada 10-25% ADHD. Keterlambatan bicara dan berbahasa juga sering ditemukan. Beberapa kasus autisme yang sudah rnengalami perbaikan sering salah diagnosis sebagai AI7HD, bila perkembangan anak di masa lalu tidak diperhatikan.

- Berbagai gangguan psikiatrik lain sering terjadi bersama ADI-IP dan disebut sebagai ko-morbiditas. Ko-morbiditas dilaporkan sampai 50°1° untuk Opposional Disorders (anak yang selalu melawan), 30-50% untuk Conduct Disorders (cenderung melanggar peraturan), 15-20% untuk Mood Disorders, dan 20-25%% untuk anxiety disorders (kecemasan).1°3 ADl-D mempunyai awal munculnya gejala lebih dini, perjalanan klinis menetap, dan adanya riwayat keluarga.

Observasi anak dengan ADHID:

- Gejala ADHD semakin jelas bila anak berada dalam situasi yang tidak diawasi, atau sedang melakukan kegiatan yang memerlukan atensi dan usaha mental terus menerus.

- Walaupun ADHD seharusnya muncul di setiap situasi, gejala mungkin tidak jelas bila penderita sedang melakukan aktivitas yang disukainya, sedang mendapat perhatian khusus, atau berada dalam situasi yang memberi penghargaan kepada tingkah laku yang normal. Dengan demikian, pengawasan selintas di kamar praktek sering gagal untuk menentukan ADHD.

- Observasi di tempat sehari-hari misalnya di sekolah sebenarnya sangat baik, tetapi sulit dilakukan oleh dokter. Dalam hal ini peran guru di sekolah sangat penting.

Penyebab ADHD

Kelainan anatomis

Penelitian diarahkan kepada gangguan otak besar bagian depan yang disebut sebagai lobus frontalis, karena penderita kerusakan lobus frontalis, terutama sisi kanan, menunjukkan gangguan perilaku yang mirip dengan ADHD.' Beberapa penelitian menunjukkan lobus frontalis kanan berukuran lebih kecil.',9

Pencitraan fungsional

Aktivitas bahan kimia di otak saat melakukan suatu aktivitas dapat diukur dengan menggunakan PET (Positron Emission Tomography). Beberapa peneliti melaporkan penurunan aktivitas sirkuit frontostriatal, yang meliputi korteks lobus frontalis, nukleus kaudatus dan globus palidus, pada ADHD. "9

Elektroensefalografi

Pemeriksaan dengan EEG Power Spectral Analysis menunjukkan bahwa penderita ADHD mengalami pengurangan aktivitas daerah frontal kanan.' Secara keseluruhan, para peneliti berpendapat bahwa pada penderita ADHD ditemukan adanya gangguan pada korteks lobus frontalis dan sirkuit frontostriatal, baik kelainan anatornik, fungsi dan aktivitas kelistrikan.

Neurokimia ADHD

Berbagai bahan kimia penghantar impuls listrik yang disebut sebagai neurotransmiter telah diteliti pada kasus ADHD. Terdapat bukti-bukti bahwa pada ADHD terdapat gangguan neurotransmiter, meliputi neurotransmiter noradrenergik/ norepinefrin, dopamin dan serotonin.

Gangguan neurotransmiter dapat berupa:

  1. Kekurangan dopamin. Hal ini lebih sering ditemukan pada ADHD tipe inatensi. ° Methylphenidate meningkatkan kadar dopamin dan menghilangkan gejala. i'
  2. Kelebihan dopamin. Gejala ADHD dapat juga disebabkan kelebihan dopamin dalam sinaps.'Z Peningkatan dopamin di ganglia basal menyebabkan kelebihan energi dan hiperaktivitas. Hiperaktivitas yang disebabkan kadar dopamin yang tinggi dapat diredam dengan meningkatkan serotonin. Z
  3. Kekurangan noradrenergik pada kortek prefrontal mengganggu working memory dan regulasi atensi.'Z Pemberian obat yang meningkatkan kadar noradrenergik, misalnya guanfacine atau clonidine akan mengurangi gejala. Demikian pula pemberian obat yang memperpanjang masa kerja adrenergik, misalnya Anti Depesan Trisiklik akan memperbaiki gejala.
  4. Sistem serotonin. Penelitian terhadap kadar serotonin dalam cairan serebrospinalis dan darah menunjukkan hasil yang kurang konsisten, kadang meningkat kadang menurun.'3 Gangguan pada sistem serotonin akan mengganggu sistem dopamin dan perilaku yang tergantung dopamin.l3 Bila diberikan obat serotonergik, baik jenis SSRI atau prekursor serotonin, pasien menjadi lebih tenang.

Genetik

Saudara kandung dan sepupu mempunyai risiko yang tinggi.8, '4 Risiko lebih tinggi pada saudara kandung dibandingkan saudara tiri dan kembar satu telur dibandingkan dua telur. Anak dari orang tua yang mengalami ADHD juga mempunyai risiko untuk mengalami ADHD yang lebih tinggi. 4

Penelitian jangka panjang terhadap ADHD menunjukkan bahwa ada subgrup yang mengalami remisi atau menghilangnya gejala pada masa remaja sebanyak 15% dan ada subgrup yang menetap sampai dewasa sebanyak 85%.'S Apakah ada perbedaan genetik antara ADHD yang menetap dan yang mengalami remisi? Faktor genetik lebih berperan pada ADHD yang menetap. Prevalensi AMID pada orang tua adalah 16,3% pada ADHD yang menetap clan 10,8% pada ADHD yang mengalami remisi. Untuk saudara, prevalensi adalah 24,4% untuk ADHD yang menetap dan 4,6% untuk ADHD yang mengalami remisi,

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan ADHD merupakan penatalaksanaan multidisiplin jangka panjang, yang memerlukan evaluasi berulang-ulang untuk menilai efektivitas dan menilai ada tidaknya masalah baru.ACAp'We'de` Rencana pengobatan harus dibuat secara individual, tergantung gejala dan efeknya terhadap kehidupan sehari-hari. Gejala inatensi, impulsivitas clan hiperaktivitas biasanya menunjukkan respons dengan pengobatan, sedangkan gejala perilaku memerlukan modifikasi lingkungan. Psikoterapi mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah hubungan interpersonal sekunder. Terapi psikiatrik clan medis sangat penting bila ada ko-morbiditas.

Pasien mempunyai hak untuk mendapat pendidikan seperti anak lain, tetapi disesuaikan dengan keadaannya. Kekurangan dalam bidang akademis, sosial, dan olahraga mernerlukan penanganan khusus karena ti dak menunjukkan respons terhadap pengobatan atau modifikasi perilaku.

Pemberian informasi terhadap pasien, orang tua, dan guru merupakan baku penatalaksanaan. Penerangan meliputi gejala, fungsi yang terganggu, etiologi, pengobatan, efek dan efek samping obat, perjalanan penyakit dan prognosis, penatalaksanaan perilaku. Beberapa mitos harus dijelaskan misalnya efek paradoksal dari stimulan, ketakutan bahwa obat akan membuat ketergantungan dan bahwa ADT-3D tidak hilang dengan pubertas.

Pengobatan diberikan bila gejala impulsivitas, agresivitas dan hiperaktivitas cukup berat sehingga menyebabkan gangguan di sekolah, di rurnah atau hubungan dengan teman.l6'17 Pengobatan bertujuan untuk menghilangkan gejala, dan sangat rnemudahkan terapi psikologis.

Efektifitas obat diukur dengan hilangnya gejala yang dituju. Dosis ditentukan berdasarkan observasi, laporan orang tua dan guru serta prestasi akademis. Lamanya pengobatan tergantung ada tidaknya gejala yang ingin dihilangkan. Pengobatan bisa berlangsung sampai puber dan dewasa.

Stimulan

Stimulan merupakan obat pilihan pertama.4'16'" Efek samping yang relatif ringan dan mudah diatasi, obat cepat bekerja, dan perhitungan dosis mudah. "W'alaupun jarang terjadi penyalahgunaan, tetap harus waspada terhadap kemungkinan penyalahgunaan obat oleh keluarga.

Sebanyak 96% anak menunjukkan respons berupa perbaikan tingkah laku. Ada perbedaan keberhasilan antara masing-masing anak. Stimulan tetap efektif walaupun digunakan bertahun-tahun dan tidak ada toleransi. Keberhasilan stimulan tidak dapat diprediksi sebelumnya berdasarkan manifestasi klinis dan faktor-faktor lain. Stimulan lebih berguna bila ADHI3 disertai komorbid yang juga menyebabkan agresi. Agresi verbal dan fisik serta perilaku antisosial akan berkurang.

Anak dengan IQ kurang dari 45 sering menunjukkan respons yang buruk. Pada kasus retardasi mental, yang dapat diperbaiki adalah inatensi, impusivitas dan hiperaktivitas, bukan prestasi akademik.

Berbagai stimulan yang digunakan misalnya;

1. Methylphenidate rnerupakan obat yang paling banyak diteliti dan paling baik untuk mengurangi hiperaktivitas dibandingkan stimulan lain. Sayang masa kerja methylphenidate hanya sekitar 6 jam, yang menyebabkan obat harus diberikan 2 kali per hari atau lebih. Jenis obat yang digunakan adalah Ritalie.

2. Dextroamphetarnine mempunyai masa kerja lebih panjang dan lebih murah. Kerugian dextroamphetarnine adalah risiko gagal tumbuh lebih besar dan kemungkinan penyalahgunaan lebih besar.

3. Stirnulan dengan masa kerja panjang digunakari bila gejala sering muncul di malam hari atau sore hari. Yang banyak digunakan adalah Ritalin-SR (sustained release), Dexedrine Spansule* (dextroamphetamine), Cylerto(pemoline), Adderall (campuran garam amphetamine), Desoxyn Gradumet® (methamphetamine). Concerta, suatu preparat baru tampaknya menjanjikan efek terapi yang lebih baik.'A

4. Pengobatan dimulai dengan dosis kecil dan di titrasi tiap minggu tergantung respons dan efek samping. Pengobatan setelah makan mengurangi anoreksia. Pasien tanpa hiperaktivitas sudah bereaksi terhadap dosis rendah. Frekuensi pemberian tergantung keadaan. Dosis methylphenidate adalah 0,3-0,7 mg/kg per dosis, dibulatkan menjadi 2,5 atau 5 mg terdekat.

5. Kadang-kadang diperlukan kombinasi obat yang mempunyai masa kerja panjang dan pendek.

Beberapa efek samping yang harus diperhatikan misalnya:

  1. Terdapat efek samping yang meningkat dengan meningkatnya dosis. Efek samping yang umum pada awal pengobatan adalah iritabel, sakit kepala, nyeri perut dan kehilangan nafsu makan. Menaikkan dosis perlahan-lahan sangat mengurangi efek samping.
  2. Efek rebound berupa meningkatnya gejala, mudah terangsang, bicara banyak, hiperaktivitas dan sulit tidur, yang terjadi 4-15 jam setelah dosis. Untuk mengatasinya dapat diberikan dosis kecil pada malam hari, penggunaan obat dengan masa kerja panjang atau penambahan clonidine atau guanfacine.
  3. Efek gangguan pertumbuhan berupa kurangnya pertambahan berat badan dan tinggi badan jarang yang bermakna. Efek ini tergantung dosis dan lebih sering ditemukan pada dextroamphetamine dibandingkan methylphenidate atau pemoline.
  4. Efek samping lain berupa hipertensi ringan, peningkatan denyut jantung jarang ditemukan. Stimulan tidak menurunkan ambang kejang.

Beberapa obat lain 16,17

Bupropion dapat mengurangi hiperaktivitas dan agresi, serta mungkin mernperbaiki kognisi pada ADHD. Efeknya kira-kira. serupa dengan methylphenidate. Bupropion diberikan 37,5-50 mg dibagi 2-3 dosis. Titrasi dilakukan dalam 2 minggu sampai maksimum 250 mg/hari (300-400 mg/hari pada adolesen). Efek samping adalah penurunan ambang kejang,. terutama pada dosis lebih dari 450 mg/hari. Sampai saat ini pengalaman dengan obat bupropion belum banyak.

Anti Depresan Trisiklik (ADT) dapat digunakan untuk ADHD. ADT dianggap kurang aman pada anak, sehingga lebih baik digunakan sebagai obat lini kedua bagi pasien yang tidak menunjukkan respons terhadap stimulan, menunjukkan depresi yang bermakna, atau untuk pasien dengan tic atau Tourette. Efikasi untuk memperbaiki nilai akademis tidak sebaik stimulan. Efek samping dapat mengenai jantung terutama pada anak prepubertas, dapat terjadi overdosis, ada efek sedasi dan antikolinergik, serta kemungkinan adanya toleransi. Beberapa jenis ADT yang sering digunakan adalah imipramine, desipramine, atau nortriptyline.

Penggunaan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) pada ADHD berasal dari data uji coba terbuka fluoxetine, suatu penelitian penambahan fluoxetine terhadap methylphenidate karena respons kurang, dan kombinasi fluoxetine dan methamphetamine.

Clonidine rnerupakan obat yang menyerupai noradrenergik. Clonidine dapat mengubah suasana hati, mengurangi hiperaktivitas, memperbaiki kooperasi, dan memperbaiki toleransi terhadap frustasi pada ADHD, terutama kasus berat. Clonidine tidak memperbaiki inatensi. Kombinasi dengan stimulan digunakan bila respons terhadap stimulan tidak maksimal atau ada efek samping stimulan pada dosis besar. Clonidine memperbaiki gangguan tidur yang disebabkan oleh efek stimulan atau rebound. Clonidine dimulai dengan dosis 0,05 mg saat tidur atau 4 kali 0,025 mg. Dosis dapat dinaikkan sampai 0,15-0,3 mg/hari dalam 3-4 dosis. Efek clonidine kadang-kadang baru terlihat setelah beberapa bulan. Bila menghentikan clonidine, turunkan dosis perlahan-lahan. Efek samping adalah sedasi, mulut kering, neusea, hipotensi, pusing.

Guanfacine hydrochloride, suatu obat yang mirip noradrenergik dengan masa kerja panjang.

Intervensi psikososial

Berbagai intervensi psikososial telah dilakukan untuk penderita ADHD, orang tua, dan lingkungan. Jenis jenis intervensi misalnya modifikasi perilaku, terapi keluarga, latihan keterampilan sosial, latihan keterampilan akademis, psikoterapi individual, modifikasi perilaku kognitif, rekreasi terapeutik dan pengobatan multimodal. Teknik ini tidak dibahas dalam makalah ini.

Lain-lain

Terapi diit untuk anak dengan ADHD sudah dilakukan sejak 1970, dan masih tetap dilakukan walaupun hasilnya tidak terbukti. Hanya 5% anak menunjukkan perbaikan setelah diit diit Feingold, itupun tidak sedramatis pemberian obat.'9 Yang menunjukkan respons adalah anak yang berumur kurang dari 6 tahun. Diit khusus memerlukan kerja ekstra dan pengeluaran uang tambahan. Terapi diit tidak dianjurkan kecuali mungkin untuk anak prasekolah.

Gula tidak terbukti menyebabkan hiperaktif, demikian pulan caffeine dalam kopi dan soft drinks tidak terbukti menyebabkan hiperaktivitas. Berbagai terapi lain tidak terbukti berhasil, misalnya terapi megavitamin, terapi herbal, anti rnabuk perjalanan, anti candida albicans, biofeedback, sensory integrative training, atau optometric vision training. ty

Prognosis

Sebanyak 30-80°/® kasus tetap menunjukkan gejala ADHD pada masa adolesen dan sebanyak 65% kasus sampai dewasa.4 Riwayat keluarga ADHD, gangguan psikososial dan komorbiditas dengan gangguan konduk, mood dan ansietas meningkatkan risiko menetapnya ADHD.

Delikuensi atau personalitas antisosial pada masa adolesen atau dewasa terlihat pada pemantauan 25-40% anak dengan ADHD. Penderita ADHD diiaporkan mempunyai kecenderungan mencoba narkotika dan mengalami adiksi pada masa adolesen.

Kasus-kasus yang memperlihatkan tingkah laku agresif terhadap orang dewasa, IQ yang rendah, hubungan dengan kawan yang buruk, dan menetapnya gejala ADHD mempunyai prognosis yang kurang balk.

Daftar pustaka

  1. AACAP American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. Practice Parameter for the use of stimulant medications in the treatment of children, adolescent, and adult. J Am Acad Child Adol Psy 41:2002.
  2. American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guideline: Diagnosis and evaluation of the child with ADHD. Pediatrics, May 2000.
  3. American Psychiatric Association, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition (DSM-IV). Washington, 1994.
  4. Arnold LE, Jensen PS. Attention-deficit disorders. In: Kaplan HI, Sadock BJ, eds. Comprehensive Textbook of Psychiatry, 6`h ed, vo12. Baltimore: William & Wilkins, 1995, pp. 2295-311.
  5. Barr CL. Genetics of Childhood Disorders: XXII. ADHD, Part 6: The Dopamine D4 Receptor Gene. J Am Acad Child Adolesc Psy, 49:333-9, 2001.
  6. Baumgaertel A. ADHD. Alternative and controversial treatments for ADHD. Ped Clins North Amer 46:977-92, 1999.
  7. Baving L. Atypical frontal brain activation in ADHD: Preschool and elementary school boys and girls. J Am Acad Child Adolesc Psy 38:1363-71, 1999.
  8. Castellanos FX, Giedd Jn, Marsh WL et al. Quantitative brain magnetic resonance imgaing in ADHD. Arch Gen Psychiatry 53:607-16, 1996.
  9. Connors DF. A Meta-Analysis of Clonidine for Symptoms of Attention-Deficit Hyperactivity Disorder. J Am Acad Child Adolesc Psy. Dec, 1999.
  10. Faraone SV, Biederman J, Weiffenbach B et al. Dopamine D4 gene 7-repeat allele and attention deficit hyperactivity disorder. Am J Psy 156:768-770, 1999.
  11. Faraone SV. Genetics of Childhood Disorders: XX. ADHD, Part 4: Is ADHD genetically heterogenous?. J Am Acad Child Adolesc Psy Nov 2000.
  12. Gainetdinov RR. Genetics of Childhood Disorders: XXIV. ADHD, Part 8: Hyperdopaminergic Mice as an Animal Model of ADHD, J Am Acad Child Adolesc Psy 40:380-2,2001.
  13. National Institute of Health Consensus Panel. Diagnosis and Treatment of ADHD, 1998.
  14. Pelham WE. Once-a-day Concerta methylphenydate versus three-times-daily methylphenydate in laboratory and natural setting. Pediatrics 107:E105, 2001.
  15. Practice Parameters for the Assessment and Treatment of Children, Adolescents, and Adults With Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. J Am Acad Child Adol Psy 36:10 Suppl, October 1997.
  16. Pusponegoro HD. Neurobiologi ADHD. Kongres Nasional Psikiatri, Semarang 2001.
  17. Quist JF. Genetics of Childhood Disorders: XXIII. ADHD, Part 7: The Serotonin System. (attention-deficit/hyperactivity disorder) J Am Acad Child Adolesc Psy. 40:253-6, 2001.
  18. Tannock R. ADHD: advances in cognitive, neurobiological and genetic research. J Child Psychol Psychiatry 39:65-99, 1998.
  19. Wender EH. Managing stimulant medication for ADHD. Pediatr Rev 22:183-90, 2001.

Kriteria diagnosis Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, DSM - IV

A. (1) atau (2)

(1) Enam atau lebih gejala inatensi yang menetap minimal 6 bulan dengan derajat yang menimbulkan maladaptasi atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

Inatensi

- Kegagalan untuk memperhatikan detail atau membuat kesalahan karena tidak berhati-hati

- Mempunyai kesulitan untuk terus menunjukkan atensi pada saat bermain atau mengerj akan tugas.

- Tidak mendengarkan pada saat diajak bicara.

- Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.

- Mengalami kesulitan mengorganisasi tugas dan aktivitas.

- Menghindari atau tidak menyukai kegiatan yang membutuhkan usaha mental terus menerus.

- Kehilangan benda-benda yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas misalnya pinsil, buku, alat-alat.

- Perhatian mudah terpecah karena adanya stimulus eksternal.

- Pelupa

(2) Enam atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas yang menetap minimal 6 bulan dengan derajat yang menimbulkan maladaptasi atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

Hiperaktivitas

• Sering bermain tangan atau tidak bisa duduk diam.

• Sering meninggalkan tempat duduk di sekolah atau pada situasi lain yang memerlukan anak tetap duduk.

• Lari atau memanjat berlebihan pada situasi yang tidak tepat. (Pada adolesen merupakan perasaan gelisah karena harus duduk diam)

• Sering mengalami kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas yang memerlukan diam.

• Selalu bergerak, seperti dikendalikan suatu motor

• Sering bicara berlebihan

Impulsivitas

  • Terlalu cepat menjawab walaupun pertanyaan belum selesai diajukan
  • Sulit menunggu giliran
  • Sering menginterupsi atau mengganggu orang lain

B. Beberapa gejala sudah ada sebelum umur 7 tahun.

C. Beberapa gejala muncul di 2 atau lebih situasi yang berbeda misalnya di sekolah dan di rumah.

D. Harus ada bukti jelas adanya gangguan bermakna dalam bidang sosial, akademis atau pekerjaan.

E. Gejala tidak muncul pada saat perjalanan gangguan psikiatrik lainnya.

Jenis ADHD

  • ADHD, tipe kombinasi. Kriteria A1 dan A2 sudah berlangsung 6 bulan
  • ADHD terutama inatensi. Kriteria A 1 dipenuhi, tetapi kriteria A2 tidak dipenuhi untuk 6 bulan terakhir.
  • ADHD, terutama hiperaktif-impulsif. Kriteria A2 dipenuhi tetapi kriteria A 1 tidak dipenuhi dalam 6 bulan terakhir.

5 Comments:

At 3:57 PM, Anonymous Anonymous said...

Τhe ροst ρrοvides confirmed useful to me.
It’s quіte іnfoгmative anԁ you're obviously very experienced in this region. You have got exposed my own face in order to varying opinion of this specific subject using interesting and reliable content material.
My website :: buy ambien

 
At 6:23 PM, Anonymous Anonymous said...

Your article οffeгs veгified
benefiсіal to me. It’s extrеmely helpful and you arе nаturаlly really well-infоrmed in thiѕ
fіeld. You get pоpped my own еуes to different ѵiews on this
specifiс subject ωith іnteгesting аnԁ strong contеnt.
Feel free to surf my homepage ... buy ativan

 
At 11:16 PM, Anonymous Anonymous said...

A huge dick in my pussy,any warm wet tounge up our arse and cum as well
as pussy juice all over me. Fuck, ozzy

Feel free to surf to my web site: hcg injections

 
At 5:18 AM, Anonymous Anonymous said...

Hello theгe Ι аm so happy Ι founԁ your weblog, І rеally founԁ you bу error, while I ωas rеsеarching on Digg fοr ѕomething elsе, Anyhoω I аm here now and would just
likе to say thanκ you for a marvelous post anԁ a all rοund enteгtaіning blog (I also love the theme/dеsіgn),
I ԁon’t hаve time tο bгowѕe it all аt the minute
but I have book-markeԁ it and also added yοur RSS feеdѕ, so
when I have time I ωill be baсk to гeаd a
lot more, Please do keep uρ the aωesomе woгk.


My homepage; steroids for women

 
At 12:15 AM, Anonymous Anonymous said...

Yοur сurrent post provides establishеd neceѕѕаry to mе.
It’s quite uѕеful аnd yоu're clearly extremely educated in this area. You possess opened up our eyes to be able to numerous opinion of this specific subject together with interesting and strong articles.
Feel free to surf my site - fizweb.elte.hu

 

Post a Comment

<< Home